Strategi Belajar Mengajar

BAB VII
STRATEGI PENGAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA


7.1 Pengantar
Keterangan berbahasa mempunyai empat komponen yaitu:
a. keterampilan menyimak
b. keterampilan berbicara.
c. keterampilan membaca.
d. keterampilan menulis.

7.2 Strategi Pengajaran Menyimak.
Dalam bidang kategori metakognitif, strategi-strategi yang dapat digunakan buat pengajaran dan pembelajaran menyimak (terlebih-lebih buat menyimak pemahaman) antara lain:
1. selective attention (perhatian selektif)
2. self-monitoring (swa-pantau)
3. problem identification (identifikasi masalah)
Dalam bidang kategori kognitif, strategi-strategi yang dapat digunakan buat menyimak pemahaman adalah:
1. Rehearsal atau pengulangan nama-nama butir atau objek yang telah disimak.
2. Organization atau pengelompokan dan pengklasifikasian kata-kata terminologi, atau konsep-konsep sesuai dengan ciri-ciri semantik atau sintaktik yang disimak.
3. Inferensing atau penggunaan informasi dalam teks lisan untuk menduga makna-makna butir-butir linguistik baru, meramalkan hasil atau akibat, atau melengkapi bagian-bagian yang hilang.
4. Summarizing atau mensitesiskan secara segera apa-apa yang telah disimak untuk meyakinkan bahwa informasi telah dipahami dan dikuasai.
5. Deduction atau penerapan kaidah-kaidah untuk memahami bahasa yang disimak.
6. Imagery atau penggunaan imaji-imaji visual untuk memahami dan mengigat informasi verbal baru dari penyimakan.
7. Transfer atau penggunaan informasi linguistik yang telah diketahui untuk memberi kemudahan bagi tugas pembelajaran baru.
8. Elaboration untuk merangkaikan ide-ide yang terkandung dalam informasi baru atau memadukan ide-ide baru dengan informasi yang telah diketahui ( O’ Malley & Chamot 1990 : 45 )

Dalam bidang kategori sosial/afektif, untuk menyimak digunakan strategi-strategi:
a) Cooperation atau bekerja sama dengan teman-teman untuk memecahkan suatu masalah, mengumpulkan informasi, mengecek catatan,atau memperoleh umpan –balik pada kegiatan pembelajaran menyimak pemahaman
b) Questioning for clarification atau memperoleh dari pengajar atau teman-teman sekelas penjelasan, uraian, dan contoh-contoh tambahan.
c) Self-talk atau pengunaan kontrol mental untuk meyakinkan diri bahwa kegitan pembelajaran akan berhasil atau mengurangi kegelisahan mengenai suatu tugas pembelajaran menyimak ( O’malley & Chamot 1990 : 46)

Strategi kognitif Pembelajaran Menyimak menurut Model Ellis & Sinclair (1989)
A. Personal Strategi
a) Penggunaan Imajeri
b) Pemilihan Informasi
c) Penggunaan pengetahuan terdahulu
B. Risk Taking
a) Pendugaan berdasarkan pengetahuan terdahulu
b) Penggunaan tanda linguistik dan isyarat paralinguistik
c) Perkiraan (makna) kata baru
C. Getting Organized
a) Pengorganisasian sumber
b) Pengorganisasian materi
c) Pengorganisasian waktu

Strategi-strategi Pokok yang diajarkan pada menyimak Pemahaman
Tugas Deskripsi Strategi Teknik
Menyimak Pemahaman Para pembelajar menyimak pada rekaman otentik dialog antara seorang dokter dan pasien; kemudian menyelesaikan latihan pemahaman Selective attention Pusatkan perhatian pada butir-butir khusus selama menyimak

Elaboration Gunakan apa yang telah di ketahui
Inferencing Buat dengan Logis
Transfer Cari asal-usul yang sama, atau hubungan satu sama lain

7.2 Strategi Pengajaran Berbicara
Strategi Kognitif Pembelajaran Berbicara menurut Model Ellis & Sinclair (1989)
A. Personal Strategies
a) Mencari kesempatan praktek
b) Mengarahkan percakapan mental imajeri
B. Risk Taking
a) Pemakaian teknik keraguan
b) Latihan/Praktek
c) Bertahan pada kosa-bahasa sendiri
C. Getting Organized
a) Pengorganisasian sumber
b) Pengorgaisasian bahan
c) Pengorganisasian waktu

Strategi-strategi Pokok yang Diajarkan pada Berbicara
Tugas Deskripsi Strategi Teknik
Berbicara Para pembelajar bekerja dalam kelompok-kelompok mempersiapkan seksi-seksi sukar teks bacaan untuk diceritakan kembali pada kelas agar semua akan memahaminya. Substitution Menggunakan sinonim, parafrase dan gerak untuk mengkomunikasi makna
Cooperation Bekerja pasangan atau kelompok menyelesaikan tugas
Self-evaluation Mengecek kemampuan sendi komunikasi sukses


7.3 Strategi Pengajaran Membaca
Dalam bidang kategori kognitif, strategi-strategi yang dapat diajarkan buat membaca pemahaman adalah:
1) Rehearsal atau pengulangan nama-nama butir atau objek yang telah dibaca.
2) Organization atau pengelompokan / pengklasifikasian kata-kata, istilah-istilah, atau konsep-konsep yang telah dibaca berdasararkan ciri-ciri semantik dan sintatik.
3) Inferencing atau pemakaian informasi dalam teks untuk menduga makna butir-butir linguistik baru, meramalkan hasil, atau melengkapi bagian-bagian yang hilang.
4) Summarizing atau pensitesisan secara segera apa-apa yang telah dibaca untuk menyakinan bahwa informasi telah dipahami.
5) Deduction atau penerapan kaidah-kaidah untuk memahami bahasa bacaan.
6) Imagery atau penugasan imaji-imaji visual untuk memahami atau mengingat inormasi verbal baru dari bacaan.
7) Transfer atau penggunaan informasi linguistik yang telah diketahui untuk memberi kemudahan bagi tugas pembacaan baru.
8) Elaboration atau perangkaian ide-ide yang terkandung dalam informasi baru atau pemaduan ide-ide baru dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya.

Strategi Pokok yang Diajarkan pada Membaca Pemahaman (Reading Comprehension)
Tugas Deskripsi Strategi Teknik
Membaca Pemahaman Para pembelajar mengenali aneka strategi membaca dalam B1, lalu menerapkan strategi-strategi tersebut dalam paragraf B2 dengan kata-kata baru yang digarisbawahi Inferencing Menggunakan konteks langsung dan yang di perluas untuk menduga kata baru
Deduction
Menggunakan Kaidah-kaidah tata bahasa untuk mengenali bentuk-bentuk kata
Elaboration Menggunakan pengetahuan terdahulu membantu tugas baru
Transfer Memperkenalkan serta menggunakan kata-kata serumpun yang sama asal-usulnya


7.4 Strategi Pengajaran Menulis
Strategi Kognitif Pembelajaran Menulis Model Ellis & Sinclair (1989)
A. Personal Strategies
a) Pengumpulan model tulisan
b) Pembayangan pembaca dalam hati
B. Risk taking
a) Penggunaan kosakata dan struktur yang telah diketahui
b) Pembuatan komposisi dalam bahasa target
c) Pembuatan revisi
C. Getting Organized
a) Pengorgansasian sumber
b) Pengorganisasian materi
c) Pengorganisasian waktu

Strategi Metakognitif dan Strategi Kognitif dalam Tugas Menulis Bahasa Asing
Strategi Menulis
1. Strategi Metakognitif
- Perencanaan organisasional
- Swa-pantau
- Swa-nilai
2. Strategi Kognitif
- Penyumberan
- Terjemahan
- Substitusi
- Elaborasi
- Perangkuman

Strategi Pokok yang Diajarkan pada Empat Keterampilan Berbahasa untuk Berbagai Tugas Pembelajaran
Tugas Strategi
1. Menyimak Pemahaman a. Perhatian Selektif
b. Perluasan
c. Penyimpulan
d. Pemindahan
2. Berbicara a. Penggantian
b. Kerja sama
c. Swa-nilai
3. Membaca Pemahaman a. Penyimpulan
b. Deduksi
c. Perluasan
d. Pemindahan
4. Menulis a. Penyumberan
b. Terjemahan
c. Penggantian
d. Perangkuman














Dengan mengemukakan berbagai strategi pengajaran dan pembelajaran bahasa untuk mempermudah memperoleh pengetahuan Kognitif, yang terdiri atas:
A. Pengetahuan Deklaratif
a) Proposisi
b) Skemata
c) Jaringan proporsional
d) Rangkuman tempord
e) Rangkuman imaji
B. Pengetahuan Prosedural
a) Prosedur resepsi
b) Prosedur produksi
c) Prosedur percakapan
d) Strategi komunikasi
e) Prosedur pembelajaran
»»  READMORE...

Ungkapan

1. Judul : Barangsiapa berjiwa muda mempunyai masa depan
2. Arti Ungkapan :
Gunakan masa mudanya untuk kebaikan supaya hidup bahagia.
3. Uraian materi :
Masa muda merupakan masa yang masih memberikan semangat dalam suatu permulaan untuk maju. Usaha untuk maju, yang selalu akrab dengan kosakata "Pembangunan", apapun bentuknya, akan berhasil dengan baik apabila seluruh lapisan masyarakat turut berpartisipasi. Salah satu motivasi yang mampu mendorong mereka untuk meningkatkan keikutsertaan dan kreativitasnya, adalah etos (semangat) kerja yang dimiliki. Semakin tinggi etos kerja yang mereka hayati, dan amalkan, semakin tinggi pula gairah kerjanya. Sebaliknya, masyarakat yang tidak memiliki etos kerja, apalagi tidak menghayatinya, tentulah semangat dan minat kerjanya tidak mampu menandingi kaum yang memiliki etos kerja yang tinggi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:237), Etos Kerja adalah "Pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial yang didasarkan kepada sifat, nilai adat-istiadat yang memberi watak dalam masyarakat". Secara etimologi dan maknawi, kata "etos" berasal dari bahasa Yunani "ethos" yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Kata etos kemudian disatukan dengan kata "kerja" sehingga terbentuklah kata baru "etos kerja". Dalam makna baru “etos kerja”, setidaknya memiliki tiga pemahaman/makna: Pertama, etos kerja berlandaskan dan berkaitan langsung dengan kejiwaan seseorang, sehingga seorang Melayu yang Muslim harus mampu mengamalkan kebiasaan yang baik sesuai dengan makna Islam yang damai, menyelamatkan dan mensejahterakan. Hal itu harus dibuktikan dengan kerja nyata yang bermanfaat bagi orang ramai. Mengekspersikan suatu karya haruslah berlandaskan semangat kerja untuk senantiasa merujuk pada perbaikan dan terus berusaha menghindari hal-hal yang buruk. Kedua, etos kerja memberikan pandangan hidup yang mendarah daging dan bersebati dengan pelakunya. Orang yang mempunyai etos kerja yang tinggi harus dapat mengaktualisasikan dirinya dengan melakukan pekerjaan yang terbaik, yang bermanfaat bagi lingkungannya, sehingga etos kerja dapat menjadi identitas diri pelakunya.Ketiga, etos kerja juga memperlihatkan sikap dan harapan seseorang. Dengan sikap itulah pelakunya dapat meraih harapan yang dicita-citakannya.
Dalam pengamalannya di masyarakat, etos kerja selalu disandingkan dengan kata "etika kerja". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 237), Etika Kerja adalah: 1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); 2) Kumpulan yang asas yang berhubungan dengan akhlak; dan 3) Nilai yang mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Etika kerja hendaknya menjadi pedoman dan pandu arah bagi seorang anggota masyarakat dalam kehidupannya.
Dalam kehidupan orang Melayu, etos dan etika kerja mereka telah diwariskan oleh orang tua-tua secara turun-temurun. Setidaknya, masyarakat Melayu dahulu kala memiliki etos kerja (yang lazim disebut "semangat kerja") yang tinggi, yang mampu mengangkat harkat dan martabat kaumnya untuk "duduk sama rendah dan tegak sama tinggi" dengan masyarakat dan bangsa lainnya. Sedangkan etika kerja (yang lazim disebut "pedoman kerja") Melayu, diakui banyak ahli sangat ideal karena didasarkan kepada etika kerja universal, terutama di dunia Islam. Orang tua-tua mengatakan, "berat tulang, ringan lah perut". Maksudnya, orang yang malas bekerja hidupnya akan melarat. Sebaliknya, "ringan tulang, beratlah perut" yang berarti siapa yang bekerja keras, hidupnya akan tenang dan berkecukupan. Orang tua-tua juga mengingatkan, bahwa dalam mencari peluang kerja, jangan memilih-milih. Maksudnya jangan mencari kerja yang senang, tak mau bekerja berat. Itu bukanlah sikap orang Melayu yang ingin maju. Kerja yang perlu dipilih adalah kerja itu jangan "menyalah", maksudnya jangan menyimpang dari ajaran agama dan adat-istiadat. Sesuai dengan pepatah-petitih kita, "kalau kerja sudah menyalah, dunia akhirat aib terdedah".
Keutamaan kerja, tercermin pula dalam memilih menantu atau jodoh. Orang yang belum bekerja, lazimnya dianggap belum mampu "menghidupkan anak bininya". Orang ini sepanjang dapat dielakkan, tidak akan dipilih menjadi menantu atau jodoh anaknya. Beberapa contoh di atas memberi petunjuk betapa orang Melayu sudah menanamkan nilai etos kerja dalam kehidupan masyarakatnya. Konsep etika kerja sangat penting dalam masyarakat Melayu sekarang. Orang Melayu dianjurkan oleh pemerintah untuk melihat dan meniru etika bangsa lain yang telah maju seperti Eropa, Jepang, Korea dan Cina, tentu dengan catatan tidak bertentangan dengan agama dan falsafah hidupnya.
Para ahli antropologi dan sosiologi yang telah melakukan kajian terhadap cara kerja orang Melayu sampai pada kesimpulan bahwa orang Melayu pemalas dalam bekerja, baik kerja tani, buruh, pegawai dan dunia perdagangan. Paling tidak itulah kesimpulan yang telah diambil oleh Cortesao (1940), Raffles (1935), Wheeler (1928) (dalam Abdul Halim Othman, dkk, 1993: 126). Sedang G. D. Ness dalam bukunya Bureaucracy and Rural Development in Malaysia (1967) orang Melayu dibandingkan dengan orang Cina kurang berorientasi kepada hasil dan kesuksesan hidup.
Kajian Swift (1965) pula melakukan pengamatan bahwa orang Melayu suka memiliki tanah supaya dapat hidup selesa dan sejahtera, tanpa bekerja keras. Hasil kajian Djamour (1959) hampir senada dengan Swift yang berkesimpulan bahwa orang Melayu ingin hidup senang, kenyang, dan tenang tanpa mau kerja keras. Apalagi bagi orang Melayu di Malaysia dulu, mereka bumiputera yang tidak mau bekerja di perusahaan timah dan bauksit serta kebun karet. Tidak seperti kaum pendatang: Cina, Jawa, dan India. Walaupun orang Melayu sadar mereka tidak dapat mengalahkan Cina dalam bisnis, tapi mereka tidak tertarik untuk mengikuti cara kerja mereka, yang sangat berlainan dan asing bagi orang Melayu (Wilson, 1967).
Hanya orang yang bersungguh-sungguh saja yang akan hidup bahagia. Jika sudah berjaya jangan pula bersikap sombong dan tamak. Orang yang sukses, jika bergaul dengan orang kecil/kampung tidak akan menghilangkan martabatnya. Masyarakat Melayu selalu diingatkan untuk tidak sombong dan tamak, seperti pepatah berikut ini, “jangan diikut sifat lalang, semakin tua semakin tegak. Sebab hal itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
4. Kesimpulan :
Gambaran tentang etos dan etika kerja Melayu, sebagian besar masih terdapat dalam masyarakat Melayu, baik yang tinggal di kota maupun di kampung-kampung. Nilai luhur budaya Melayu ini tentulah akan memberi manfaat bila disimak, dicerna, dan dihayati dengan baik dan benar. Mudah-mudahan, dengan informasi ini, orang akan mau mengingat bahwa orang Melayu memiliki etos kerjanya.
Secara teoritis dan filosofis, orang Melayu memiliki etos dan etika kerja yang hampir sempurna. Kalaupun sekarang ada anggapan bahwa orang Melayu serba ketinggalan, perajuk dan sebagainya, tentulah bukan karena tidak adanya etos kerja dalam budaya mereka, tetapi karena mereka yang tidak memahami atau tidak peduli terhadap nilai-nilai luhur budayanya itu. Apalagi dalam era pembangunan dan era globalisasi sekarang ini berbagai perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya terus berlangsung dalam kehidupan masyarakat, terutama masyarakat Melayu. Bila mereka tidak mau menggali dan merujuk kepada nilai-nilai luhur budayanya, tidak mustahil mereka semakin jauh tercabut dari akar budaya, tentulah tidak dapat diharapkan untuk membina dan mengembangkan kebudayaan dimaksud, dan mereka akan tetap hidup dalam ketertinggalan dan keterbelakangan.
Dan kepada pihak-pihak yang terkait, diharapkan untuk terus menggali, mengolah, membina dan mengembangkan kebudayaan Melayu, agar keberadaannya tidak hanya sekedar menjadi "buah bibir", tetapi benar-benar mampu mewarnai hidup dan kehidupan masyarakatnya, memberi manfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
5. Daftar bacaan
Chaniago, Nur Arifin dan Bagas Pratama. 2005. 5700 Peribahasa Indonesia. Bandung: CV. Pustaka Setia.

http://melayuonline.com/article/?a=SlBvL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&l=etos-dan-etika-kerja-melayu-motivasi-untuk-maju

http://tradisimelayu.blogspot.com/
http://www.chass.utoronto.ca/epc/srb/cyber/har2mal.html

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1999/06/26/0023.html


1. Judul : Baru dapat gading bertuah, terbuang tanduk kerbau mati
2. Arti Ungkapan :
Arti sebenarnya :
Tuah dapat berarti 1) untung; bahagia; 2) sakti
Gading bertuah dapat berarti gading yang membawa untung atau gading yang mengandung kesaktian.
Gading ialah benda yang bernilai, mahal harganya, sedangkan rotan dibandingkan dengan gading sangat kurang nilainya.
Arti kiasan:
Pribahasa diatas dikiaskan kepada seseorang yang menyia-nyiakan atau tidak lagi mempedulikan sahabat lamanya karena ia sudah mendapat sahabat baru yang lebih baik karena lebih kaya misalnya. Atau, seseorang yang mengabaikan barang yang sudah dipakainya karena memperoleh barang baru yang lebih bagus daripada barang yang lama itu. sudah lumrah dalam hidup manusia, bila ia memperoleh sesuatu yang baru yang lebih baik daripada yang lama, maka yang lama itu akan disisihkannya, tidak dipedulikannya lagi.
3. Uraian materi :
Dalam uraian ini dapat di misalkan perubahan paradigma, yaitu paradima lama menjadi paradigma baru. Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, Paradigma berarti kerangka berfikir. Jadi "Membuang Paradigma Lama" dapat kita artikan sebagai membuang kerangka berfikir yang sudah usang (ketinggalan jaman).
Membuang Paradigma Lama berarti membuang cara berfikir atau cara pandang yang sudah kadaluarsa, ketinggalan jaman dan sudah tidak lagi sesuai dengan jamannya. Zaman modern sekarang ini kita sudah harus berfikir dengan cara-cara yang rasional (= menurut pikiran dan pertimbangan yang logis, menurut pikiran yang sehat, cocok dengan akal budi, nalar) dan objektif (= mengenai keadaan sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi). Artinya dari dalam diri kitanya sendiri dulu yang harus mau dan bersedia untuk berubah, berubah didalam cara berpikir, cara memandang serta cara menilai sesuatu untuk lebih disesuaikan dengan cara yang lebih logis dan masuk akal.
Sementara cara berfikir sangat terkait erat dengan yang namanya kreativitas (= kemampuan untuk mencipta ; daya cipta ; berkreasi). Mendengar kata kreativitas, sering kali timbul di dalam pikiran kita bahwa kreativitas itu adalah milik dari Para Seniman, Para Pelukis dan Para Pengarang Buku saja. Dibenak kita, mereka itulah yang dikategorikan sebagai orang-orang kreatif, yang memiliki kemampuan untuk menciptakan dan punya banyak sekali imajinasi. Umat manusia pada dasarnya terlahir sudah dengan membawa, serta sudah memiliki kemampuan untuk berkreativitas dan berinovasi (= mengenai hal-hal yang baru). Kemampuan tersebut merupakan bagian dari akal budi dan itu merupakan salah satu dari sekian banyak sifat dasar manusia. Sebagai contoh, lihat saja anak-anak kecil jika sedang membuat coretan-coretan di atas kertas atau di dinding, dia bisa menggambarkan sesuatu atau membuat suatu bentuk permainan. Bahkan terkadang bisa timbul ide-ide atau kreasi yang tidak kita duga sebelumnya. Sekarang kita bahas mengenai ciri-ciri apa saja yang katanya dimiliki oleh orang-orang kreatif. Dikatakan bahwa orang kreatif cenderung memiliki kebiasaan-kebiasaan yang positif dan memiliki kemampuan untuk membuang pikiran-pikiran yang menghalangi timbulnya kreativitas. Faktor pendukung timbulnya pikiran positif itu adalah: ;
1. Ia memiliki sikap keterbukaan, terbuka terhadap segala macam ide serta segala macam gagasan yang berasal dari berbagai sumber. Baik itu dari hasil pemikiran dirinya sendiri, maupun yang berasal dari luar dirinya. Misalnya dari pengalaman orang lain, dari buku-buku dan lainnya. Yang bagi dia itu justru merupakan suatu tantangan, suatu misteri yang mengusik rasa ingin tahunya. Sikap keterbukaan inilah yang pada akhirnya mendorong timbulnya berbagai perubahan.
2. Ia memiliki sikap berani mencoba, berani bereksperimen dengan sesuatu hal yang baru atau bahkan sesuatu yang tidak masuk akal.
3. Ia adalah orang yang menyukai tantangan, dia menantang dirinya sendiri dan/atau orang lain untuk melakukan sesuatu yang mungkin oleh sebagian orang dianggap masih tabu untuk diungkap.
4. Ia cenderung bersikap mandiri, independent atau tidak bergantung kepada orang lain dan dapat berdiri sendiri dalam melakukan aktivitasnya.
5. Dia menciptakan sesuatu kreasi dengan menggunakan imajinasinya atau imajinatif untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, yang lebih bernilai, yang lebih unik dan lebih bercita rasa tinggi.
6. Dia tidak suka hal-hal yang sifatnya monoton (= selalu sama dengan yang dulu, itu-itu saja). Dia bosan dengan hal-hal yang sederhana, suka akan hal-hal yang baru dan tidak ingin dibatasi.
7. Dia memiliki dinamika (= semangat, gerakkan yang timbul dari dalam diri) yang tinggi, dikenal sebagai orang yang tidak kenal lelah dan sering lupa waktu. Segala tantangan dihadapinya dengan antusias (= bersemangat) dan optimisme (= sikap positif) yang tinggi.
4. Kesimpulan :
Sebagai umat manusia yang hidup dijaman serba modern, dimana bisa saja setiap saat terjadi perubahan dengan sangat drastisnya, belum lagi ditambah dengan semakin kerasnya persaingan diberbagai bidang kehidupan umat manusia. Sehingga menjadi alangkah naïfnya (= celaka, simple minded, tidak masuk akal) diri kita, jika kita masih saja mau dibelenggu atau dikekang oleh kerangka berfikir yang kurang rasional dan kurang objektif itu.
5. Daftar bacaan :
Badudu, J.S. 2008. Kamus Peribahasa memahami arti dan kiasan peribahasa, pepatah, dan ungkapan. Jakarta: Kompas.

Chaniago, Nur Arifin dan Bagas Pratama. 2005. 5700 Peribahasa Indonesia. Bandung: CV. Pustaka Setia.

http://community.siutao.com/blog.php?b=123
http://id.shvoong.com/social-sciences/1641626-budaya-melayu-indonesia-keteladanan-usman/












1. Judul : Baru dianjur sudah bertarung
2. Arti Ungkapan :
- Baru memulai sudah mendapatkan kesulitan.
- Baru saja disiapkan, maka secara mendadak mendapat hambatan.
3. Uraian materi :
Dalam strategi perjuangan selalu memiliki hambatan maupun kesulitan. adalah sebuah kesalahan pula bila kita menjadikan kaum kolonial sebagai penyebab kemunduran itu. Karena, bagaimana pun, maju atau mundurnya suatu kaum tidak terletak pada orang lain yang berada di luar kaum itu, melainkan amat tergantung kepada pribadi-pribadi yang ada dalam kaum itu sendiri. Pada prinsipnya, kemunduran rumpun Melayu bukan sekedar kesalahan kaum kolonial, melainkan kesalahan orang Melayu sendiri yang kurang pandai berstrategi dalam perjuangan hidup.
Suasana kolonialis yang sangat sarat dengan perang dan konflik telah menyedot hampir semua energi rumpun Melayu ke dalam suasana perang, sehingga lupa menyisihkan sebagian tenaga untuk tetap berkiprah di bidang ketamadunan (Sains dan teknologi). Akibatnya, ketika era kolonialisme berlalu, kita kesulitan bangkit, karena jiwa dan raga telah begitu terkontaminasi oleh suasana perang yang banyak bersinggungan dengan nuansa emosi dan kebencian antar kelompok, dan tidak terlatih lagi menggunakan akal dan daya intelektual untuk memajukan tamadun seperti yang dulu pernah dilakukan.
Implikasi dari apa yang disebut di atas adalah kurang terlatihnya lagi orang-orang Melayu menggunakan daya nalarnya dalam menyikapi perubahan dan perkembangan zaman. Pengalaman traumatik di masa kolonial yang banyak memancing emosi, terus saja membekas dan menurun kepada generasi sekarang. Akhirnya, rumpun Melayu lebih banyak dipengaruhi oleh emosi ketimbang akal sehatnya. Padahal untuk bertindak dalam mencapai kemajuan tidak bisa disandarkan kepada emosi belaka. Dalam pada itu, bangsa Barat yang maju dipersepsi dari kacamata materi, sehingga umumnya rumpun Melayu terjebak kepada dunia materialisme. Orientasi hidup berubah menjadi materialistis, konsumeris, dan malas menggunakan akal untuk berfikir kritis. Gemar memutar kenangan masa lalu, tenggelam dalam nostalgia indah, gamang melangkah ke masa depan, sehingga takut bereksperimen. Hidup lebih mendahulukan kepentingan sesaat, ingin menikmati dalam waktu dekat. Ini semua membawa akibat rusaknya akal dan budi sebagai modal utama ketamadunan rumpun Melayu di masa depan.
Sebagai bagian dari orang dan kawasan dunia Melayu, Riau ada di antara kawasan daerah Melayu yang ikut mengalami ketertinggalan di hampir semua bidang kehidupan seperti disebut di atas. Hampir 45 persen penduduk negeri ini hidup di bawah garis kemiskinan, dan sekitar 63 persen hanya berpendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD) ke bawah. Mereka benar-benar tertinggal di bidang pendidikan, sehingga bodoh dan miskin.
Memahami kondisi seperti disebut di atas, pemerintah dan masyarakat Riau perlu segera mengambil kebijakan konkret dan terprogram secara matang untuk menyiapkan sebuah Generasi Melayu Baru yang maju secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi taat dengan nilai-nilai tunjuk ajar Melayu dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk itu, kami berpendapat perlu segera dibangun sebuah Perkampungan Melayu Baru khusus untuk mendidik anak-anak muda menjadi pewaris dan pelanjut nilai budaya Melayu yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi maju. Mereka dipersiapkan sebagai generasi baru yang hidup mengikuti adat resam Melayu, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara bersamaan.
4. Kesimpulan :
Dengan kekayan alam yang melimpah ruah, seharusnya orang-orang Melayu di Riau tidak boleh bodoh dan tidak boleh miskin. Mereka seharusnya bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik dengan menggunakan dana dari sumber daya alam yang amat kaya itu. Mereka seharusnya bisa hidup sejahtera secara ekonomi, juga dengan mendayagunakan sumber-sumber tersebut.
Kecuali itu, di kalangan orang Melayu juga telah terjadi degradasi kepercayaan yang luar biasa hebat terhadap nilai-nilai Melayu yang telah diajarkan oleh nenek moyang sejak berabad-abad yang silam. Sepertinya, orang Melayu kehilangan kepercayaan diri untuk tetap berpegang kepada nilai budaya mereka sendiri dan mengadopsi budaya luar (baca, Barat) tanpa saringan, karena menganggap budaya yang disebut terakhir ini lebih baik dari budaya mereka sendiri. Mereka lupa, atau tidak mengerti bahwa dalam sejarah ternyata budaya Melayu mampu mengangkat derajat orang di kawasan ini menjadi salah satu bangsa terhormat dalam percaturan peradaban dunia .
5. Daftar bacaan :
Bachtiar, Arief. 2004. 2700 Peribahasa Indonesia. Jakarta: Buana Raya.
Chaniago, Nur Arifin. 2005. 5700 Peribahasa Indonesia. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Hamidy, UU. 2004. Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press

http://www.riaupos.com/v2/content/view/1042/30/

http://cuklon.blog.friendster.com/2008/04/melayu-dan-identitas-islam-sebuah-pandangan-dalam-upaya-mempertahankan-identitas-islam-di-bumi-melayu-riau/
»»  READMORE...

Resensi Novel "Taj Mahal"

Resensi Novel
“ Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi “


Judul Asli : Beneath a Marble Sky : A Novel of Taj Mahal
Penulis : John Shors
Penerjemah : Meithya Rose
Penerbit : Mizan
Terbit : Februari 2007 (cetakan 3)
Tebal : 457 halaman

John Shors kali ini mengangkat sebuah novel sejarah yang berlatar asmara dan perselingkuhan, intrik dan perang saudara dibalik penciptaan Taj Mahal, yang merupakan salah satu keajaiban dunia. Novel ini berkisah tentang Jahanara yang hidup dalam lingkungan cinta kasih ayahnya sultan Shah Jahan, ibunya Mumtaz Mahal, dan kakak laki-lakinya Dara. Ketiga orang tersebut banyak mengajarkan Jahanara tentang perihal kemanusiaan. Ayahnya adalah seorang sultan yang tangguh, berhati lembut, yang begitu mencintai dan menghargai ibunya. Dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan kerajaan, tidak jarang ayahnya meminta pendapat ibunya yang sangat bijaksana, sehingga tidak ada pihak yang merasa rugi dan dirugikan. Begitupula dengan Dara kakaknya, yang selalu berusaha menyatukan umat Muslim dan umat Hindu dalam satu panji persatuan di bawah kepemimpinan ayahnya, dan mengajak Jahanara untuk memaknai hidup orang-orang kelas bawah.
Namun kebahagiaan Jahanara sebagai remaja yang hidup bebas tanpa adanya perbedaan kelas, kasta dan gender terusik karena kekejaman adik laki-lakinya yang bernama Aurangzeb yang ambisius. Di dunianya hanya ada kata perang dan keinginan membunuh yang begitu besar. Ia tidak hanya membenci umat Hindu, tetapi juga sangat membenci Jahanara dan Dara. Bagi Aurangzeb, kedua orang inilah yang akan menjadi penghalang keinginannya untuk jadi penguasa kelak.
Kesedihan mulai mewarnai hidup Jahanara. Di saat Ia masih haus kasih sayang orang tuanya, Ia harus merelakan masa remajanya terenggut oleh sebuah perkawinan politik. Kesedihannya tidak berhenti di situ saja. Ibu yang selama ini melindunginya, meninggal dunia tatkala melahirkan bayi di masa penaklukan orang-orang Deccan. Ayahnya bermuram durja sejak ditinggal ibunya. Hingga urusan kerajaan menjadi terbengkalai.
Di tengah luka yang datang silih berganti, Jahanara menemukan cintanya pada seorang ahli kaligrafi bernama Isa. Laki-laki inilah yang merancang pembuatan makam ibunya Mumtaz Mahal. Ia dan Isa merasa senasib karena sama-sama kehilangan orang-orang tercinta. Duka menempa Jahanara menjadi perempuan tegar, dan merasa bertanggung jawab atas keselamatan kerajaan di masa depan.
Konflik semakin bertambah ketika Taj Mahal rampung dibangun. Ayahnya mulai sakit-sakitan, ditambah lagi dengan pengkhianatan yang dilakukan Aurangzeb secara terang-terangan terhadap kekuasaan ayahnya. Aurangzeb mengatasnamakan agama dan Al-Qur’an untuk setiap tindakan anarkisnya. Bahkan Ia rela membunuh Dara, kakaknya sendiri dan memenjarakan Jahanara dan ayahnya.
Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur mundur. Banyaknya peristiwa yang dihadirkan membuat cerita ini terkesan berjalan lambat. Dan ending (akhir) nya pun tidak begitu jelas. Namun, novel ini mengajak kita turut serta larut dalam ceritanya yang sangat mengharukan. Ada hal baru yang bisa ditemukan di balik proses pembuatan Taj Mahal ini. Kita selama ini mengira bahwa istana yang dibuat itu memang untuk istri sultan. Tetapi setelah membaca novel ini, ternyata istana yang dibuat itu adalah bukti cinta suci Isa kepada Jahanara yang tidak bisa dimilikinya seutuhnya.
»»  READMORE...

Perbedaan Hasil Kesusastraan Balai Pustaka &Pujangga Baru (makalah)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Kata “kesusastraan” berasal dari kata “susastra” yang memperoleh konfiks “ke-an”. Dalam hal ini, konfiks “ke-an” mengandung makna tentang atau hal. Kata “susastra” terdiri atas kata dasar “sastra” yang berarti tulisan yang mendapat awalan kehormatan “su” yang berate baik atau indah. Dengan demikian, secara etimologi kata “kesusastraan” berarti pembicaraan tentang berbagai tulisan yang indah bentuknya dan mulia isinya. Keindahan bentuk hasil kesusastraan yang kemudian lazim disebut karya sastra terlihat dari penampilan sosok fisik puisi, prosa, lirik prosa, drama, maupun bentuk karya sastra yang lain.
Pembagian zaman atau periodisasi sastra Indonesia modern sampai saat ini memang masih menjadi tahap perdebatan. Bagaimanapun banyaknya pembabakan waktu yang pernah diajukan dalam sejarah sastra Indonesia, namun pembabakan yang telah umum dipakai selalu kembali pada nama-nama angkatan. Angkatan demi angkatan itu muncul hampir 10 tahun atau 15 tahun sekali. Jadi dapatlah pula kita menamakan angkatan-angkatan itu sebagai generasi berdasarkan usianya. Tiap 10 atau 15 tahun sekali di Indonesia selalu muncul angkatan baru dalam sastra Indonesia. Selama waktu itu pengalaman dan situasi masing-masing generasi rupanya agak berbeda sehingga melahirkan ciri-ciri tersendiri pada angkatannya.
Sastra Balai Pustaka dinamakan karena para sastrawannya menulis melalui badan penerbitan pemerintah kolonial belanda yang bernama demikian, sedangkan sastra Pujangga Baru berdasarkan nama majalah kebudayaan yang terbit tahun 1933 dan melalui majalah inilah para sastrawannya menulis karya-karya mereka.
Masing-masing angkatan sastra dimulai dengan munculnya sekumpulan sastrawan yang tahun kelahirannya hampir sama dan menulis dalam gaya yang hampir sama dalam majalah atau penerbitan yang sama. Sastra Balai Pustaka dimulai tahun1920. Para penulis Balai Pustaka yang mula-mula menulis sekitar tahun 1920-an adalah mereka yang dilahirkan sekitar tahun 1895-an. Ada yang lebih dahulu ada yang lebih kemudian. Sastra Pujangga Baru diisi oleh para sastrawan yang dilahirkan sekitar tahun 1910-an.

1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, untuk lebih mengetahui kesusastraan angkatan Balai Pustaka dan angkatan Pujangga Baru, maka kita perlu mengetahui:
1. Bagaimanakah latar belakang, ciri-ciri dan hasil Kesusatraan Balai Pustaka?
2. Bagaimanakah latar belakang, ciri-ciri dan hasil Kesusastraan Pujangga Baru?

1.3 Tujuan
Berdasarkan permasalahan diatas, makalah ini bertujuan:
1. Mendeskripsikan latar belakang, ciri-ciri dan hasil Kesusatraan Balai Pustaka.
2. Mendeskripsikan latar belakang, ciri-ciri dan hasil Kesustraan Pujangga Baru.















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kesusastraan Balai Pustaka
2.1.1 Latar Belakang
Sastra Balai Pustaka tidak muncul dari masyarakat Indonesia secara bebas dan spontan. Sastra ini dimunculkan dan diatur oleh pemerintah jajahan Belanda di Indonesia. Sastra ini penuh dengan syarat-syarat dan ditulis dengan maksud-maksud tertentu, yang akhirnya bermuara bagi kepentingan politik jajahan. Dari sudut ini dapat dikatakan bahwa sastra Balai pustaka bukanlah hasil ekspresi bangsa secara murni. seperti yang dijelaskan oleh Sumardjo (1992:31) bahwa:
Sastra balai pustaka adalah sastra bertendens, yakni sstra yang ditulis untuk maksud-maksud praktis tertentu, dalam hal ini adalah mendidik bangsa Indonesia agar menjadi pegawai negeri yang patuh dan tidak ambisius sehingga ingin menyamai orang-orang belanda.

Balai Pustaka adalah suatu badan yang merupakan penjelmaan dari “Commissie voor de Volkslectuur” atau dalam bahasa indonesianya: “ Komisi Untuk Bacaan Rakyat” yang berkedudukan di Jakarta dan dibentuk oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908. Komisi untuk bacaan rakyat didirikan, juga disebabkan politik ethis Belanda, politik balas jasa, untuk mengambil hati rakyat Indonesia. Tujuan dibentuknya Komisi Bacaan Rakyat ialah:
1. Membendung dan memberantas bacaan cabul yang diedarkan oleh penerbit partikelir.
2. Mencegah beredarnya bacaan yang membahayakan kedudukan pemerintah penjajah belanda.
3. Menjual buku-buku bacaan dengan harga yang semurah-murahnya, agar penerbit partikelir menjadi bangkrut.
4. Menerbitkan buku bacaan yang dianggap bermanfaat bagi kepentingan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia.

2.1.2 Ciri-ciri sastra Balai Pustaka
a. Bersifat kedaerahan
Persoalan yang digarap dalam sastra Balai Pustaka adalah persoalan yang hanya terjadi di Sumatra barat. Dalam sastra Balai Pustaka jawa dan Sunda persoalan adat seperti dilukiskan dalam sastra Melayu tidak ada, atau setidak-tidaknya bukan menjadi masalah daerah. Dengan demikian warna daerah cukup menonjol dalam sastra Balai Pustaka. Banyak kejadian cerita yang hanya dapat muncul dalam masyarakat minangkabau yang matrilineal itu dan hanya di sanalah sistem sosial itu terdapat.
b. Bersifat romantik-sentimental
Banyak roman Balai Pustaka yang mematikan tokoh-tokoh utamanya. Jarang ada tokoh yang menemukan kebahagiaan di akhir cerita (kecuali darah muda, dan roman yang tidak mengambil tema percintaan). Penggambaran cerita sengaja di sentimentalkan, segalanya serba sengsara. Banyak tokoh-tokoh roman yang anak yatim, kalau tiada berayah, juga sudah tiada beribu. Sejak kecil sudah penuh dengan perjalanan penderitaan dn berakhir dengan kematian.
c. Bergaya bahasa Balai Pustaka
Gaya pengucapan dan bahasa roman Balai Pustaka boleh dikatakan seragam, dan justru diseragamkan. Bahasa melayu yang ditulis oleh para pengarang asal Sumatra dijadikan standard bahasa. Inilah sebabnya banyak para pengarang yang berasal dari luar Sumatra juga harus “diperbaiki” dahulu bahasanya agar mencapai traf bahasa Balai Pustaka. Beberapa roman ditulis oleh dua pengarang, misalnya sebabnya Rafiah Tersesat dikerjakan oleh Hardjo Sumarto dan A. Dt. Madjondo, atau Dewi Rimba dikerjakan oleh M.D. Idris dan Nur Sutan Iskandar. Jadi para Pengarang asal Sumatra Barat mendampingi para Pegarang daerah luar Sumatra untuk membetulkan bahasa melayunya.
d. Bertema Sosial
Jarang Roman Balai pustaka yang menggarap secara khusus problem watak, agama atau politik. Memang dalam beberapa hal para pengarangnya dibatasi dalam mengungkapkan pengalaman hidupnya. Persoalan sosial yang digarap kebanyakan juga konflik antara orang-orang sedaerah. Rupanya ini memang dibiarkan berkembang oleh Balai Pustaka, agar para terdidik di Indonesia makin terpecah-pecah di antara golongannya sendiri sehingga tidak sempat memikirkan nasibnya sebagai bangsa terjajah.

2.1.3 Hasil Kesusastraan Balai Pustaka
I. Jenis Prosa
Sebagian besar hasil kesusastraan Balai Pustaka berupa prosa, misalnya:
a. Roman
1. Mengenai bahasanya
Mempergunakan bahasa melayu baru yang tetap dihiasi ungkapan-ungkapan klise serta uraian yang panjang-panjang.
2. Mengenai cara mengarang
Balai Pustaka ini masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan kepribadiannya. Terutama perkara pembaharuan sastra yang berciri Balai Pustaka. Tidak mustahil jka banyak sstra barat diimpor ke Indonesia. Buku-buku berbahasa belanda diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maka jadilah buku-buku bacaan berbahasa Indonesia dengan isi dan jalan pikiran barat. Akhirnya cara berpikr barat ni yang lebih dimnamis, lebih individualistis, mempengaruhi juga cara berpikir bangsa Indonesia. Mulailah berkembang pengarang Indonesia, karena pengaruh sastra barat dengan pikiran baratnya.
3. Mengenai isinya
Para penulis sastra Balai Pustaka sebagian besar berasal dari daerah Sumatra Barat dan daerah-daerah Sumatra lainnya. Jabatan para pengarang itu sebgian besar adalah guru dan redaktur atau campuran keduanya. Pendidikan mereka kebanyakan sekolah menengah dan ada beberapa yang lulusan perguruan tinggi. Melihat latar belakang ini jelaslah roman-roman Balai Pustaka adalah perbenturan kaum muda dengan adat daerahnya. Namun bukan masalah adat saja yang dipersoalkan, karena Balai Pustaka sebagai alat penjajahan harus “memberi pengarahan” juga pada para pembacanya. Secara garis besar tema yang digarp oleh sastra Balai Pustaka meliputi: pertentangan adat, kesetiaan sebagai pegawai anti nasionalisme dan kesejarahan.
4. Mengenai cara melukiskan cerita
Pada umumnya cara melukiskan cerita dalam roman Balai Pustaka selalu bercorak “Pasif-Romantik”. Ini berarti bahwa cita-cita baru senantiasa dikalahkan oleh adat lama yang masih beku sehingga hanya merupakan angan-angan belaka. Itulah sebabnya upaya pelaku utamanya dalam mencapi cita-cita selalu kandas, misalnya dimatikan oleh pengarangnya.
b. Novel/Cerpen
Sebenarnya tidak banyak novel/cerpen yang dihasilkan oleh Balai Pustaka. Sastra Balai Pustaka kebanyakan Roman, Puisi dan Syair. Beberapa cerpen misalnya:
- “Menyinggung Perasaan” karya Hasbullah Parinduri
- “Di Dalam Lembah Kehidupan “ karya Hamka
c. Kritik dan Essay
Salah satu essay pada sastra Balai Pustaka adalah Revolusi dan Kebudayaan karya Adinegoro (Jamaludin)
d. Drama
Pada sastra Balai Pustaka banyak Novel yang disuguhkan ke dalam bentuk drama, yaitu Kertajaya karya Sanusi pane. Terbitnya cerita drama Kertajaya menunujukkan bahwa pengarrangnya Sanusi Pane besar perhatiannya pada sejarah, atau peristiwa-peristiwa masa lalu. Kertajaya mementaskan petikan sejarah jawa lama. Kedua tokoh utamanya. Yaitu Kertajaya dan Damar Wulan, yang memperjuangkan kebenaran, akhirnya gugur secara tragis, tanpa berhasil mencapai cita-citanya.
II. Jenis Puisi
Bentuk puisi barat yang tidak terlalu terikat oleh syarat-syarat seperti puisi lama, mulai dipergunakan oleh penyair muda. Salah seorang penyair muda yakni Moh. Yamin, memelopori penggunaan bentuk sonata dalam kesusastraan Indonesia.

III. Syair
Di luar roman, cerita pendek dan drama, Balai Pustaka juga menghasilkan sejumlah besar karya syair. Karya demikian rupanya dsangat popular dalam masa sebelum perang dunia kedua, sebab bukan hanya Balai Pustaka banyak menerbitkan buku-buku semacam itu, tetapi juga para penerbit Tionghoa sejak 1870 menghasilkan buku-buku syair. Syair ini adalah warisan sastra internasional melayu, hal ini juga menunjukkan betapa para sastrawan melayu masih terikat pada budaya lama dan enggan memberontaknya.
Syair-syair yang diterbitkan Balai Pustaka sebenarnya hanya merupakan usaha menulis kembali naskah-naskah lama. Dalam hal ini sastrawan Balai Pustaka kalah maju dengan golongan masyarakat Tionghoaa yang dalam kesusastraannya banyak menulis syair-syair dengan bahan cerita yang aktual. Tetapi ini dapat dipahami karena golongan Tionghoa memang tidak memiliki tradisi syair, mereka hanya meminjam bentuk pengungkapan itu, di samping bentuk roman Barat. Adapun karya syair-syair yang pantas adalah:
- Syair Siti Aminah oleh O.St Sahbudin (1921) merupakan syair dengan cerita aktual.
- Syair Siti Asni oleh Muhamad Syah (1929) bertema kawin paksa.
- Syair Abdul Muluk oleh Balai Pustaka (1934)
- Syair Sitti Marhumah yang saleh oleh Tulis Sutan Sati (1930) dan seterusnya.



2.2 Kesusastraan Pujangga Baru
2.2.1 Latar Belakang
Dunia sastra Indonesia semakin menampilkan kemajuan dan kebebasan menciptakan pada masa angkatan pujangga baru. Masa ini dimulai dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada bulan Mei 1933. Majalah inilah yang merupakan terompet serta penyambung lidah para sastrawan pujangga baru. Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai Pujangga Baru, yakni Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana.
Dalam manifestasi Pujangga baru dinyatakan bahwa fungsi kesusastraan, selain melukiskan atau menggambarkan tinggi rendahnya budaya dan martabat suatu bangsa, juga mendorong bangsa tersebut ke arah kemajuan. Tujuan dari majalah Pujangga baru ini adalah
1. Menumbuhkan kesusastraan baru yang sesuai dengan zamannya.
2. Mempersatukan para sastrawan baru dalam satu wadah, yang sebelum itu tercerai berai menulis dalam beberapa majalah yang menyediakan ruang kebudayaan.
Meskipun maksud semula majalah ini adalah untuk memajukan kesusastraan baru, namun peranannya kemudian semakin meluas meliputi masalah-masalah kebudayaan umumnya.
2.2.2 Ciri-ciri Sastra Pujangga Baru
a. Sastra majalah
Sastra Balai Pustaka dan sastra Melayu –Rendah berpusat pada penerbit buku, makanya yang dilahirkan kebanyakan berupa roman, syair dan drama yang memang cukup panjang jalan ceritanya. Tetapi sejak sastra Pujangga Baru timbullah sastra majalah. Artinya banyak penulisnya yang melahirkan karya-karyanya lewat majalah. Buku jarang sekali diterbitkan. Buku-buku yang diterbitkan rata-rata berisi karya-krya yang pernah diterbitkan dalam majalah.
Sebagai sastra majalah, karya-karya yang banyak dibuat adalah puisi dan esei sastra. Karangan-karangan demikian itu tidak memakan banyak halaman majalah dan sekaligus dapat memuat banyak karya puisi. Keuntungan dari sastra majalah ini adalah bahwa karya para sastrawan lebih cepat diumumkan kepada pembacanya. Akibatnya banyak masalah aktual pada zamannya digarap dalam karya sastra.
b. Romantik
Lahirnya angkatan Pujangga Baru di tengah-tengah pergolakan kebangsaan, memberi pengaruh terhadap para sastrawannya. Dalam pujangga baru banyak dijumpai masalah cinta tanah air dan dambaan terhadap persatuan bangsa. Kaum pujangga baru banyak yang aktif dalam bidang politik dan mengalami gejolak masa radikal, maka tekanan bidang politik gubernur jenderal ini membawa pengaruh juga terhadap sifat sastranya.
Nasionlismenya Pujngga Baru menjadi moderat. Mereka tidak mau terang-terangan mengungkapkan nasionalisme secara radikal. Maka lahirlah karya-karya Romantik. Di bawah tekanan yang keras dari politik penjajahan, kaum Pujangga Baru lari ke dalam kejatyaan masa lampau atau merenungi kesunyian atau pengembaraan.
c. Lambang, Kiasan dan Metafora
Ciri yang menonjol dari puisi pujangga baru adalah penggunaan lambing dan kiasan. Penggunaan lambang ini menunjukkan bahwa mereka ingin menyatakan hasrta kebebasan dan nasionalismenya degan cara-cara tersembunyi, tidak mau terang-terangan. Ini disebabkan karena adanya tekanan dan ancaman yang nyata dari penjajah belanda.
Kiasan berbentuk alegori yang tekrenal terdapat dalam karya Rustam Effendi. Bebasari, sebuah sandiwara puisi yang mengisahkan pembebasan Dewi Bebasari, (lambang kemerdekaan Indonesia) oleh pujangga (lambang kaum muda) dari cengkraman Rawana yang jahat (lambang penjajah Belanda). Tetapi lambang-lambang yang banyak digunakan oleh kaum Pujangga Baru diambil dari alam. Dalam sajak-sajak mereka dijumpai kata-kata seperti: laut, awan, ombak, bunga, badai, gelombang, karang, biduk, pelita, dan sebagainya. Ki Hadjar Dewantara, misalnya dilambangkan sebagai teratai; H.O.S. Tjokroaminoto dilambangkan sebagai menara (mercusuar).

d. Berbahasa Indonesia
Bahasa yang digunkan dalam sastra Pujangga Baru adalah bhasa yang lain dengan sastra Balai Pustaka. Banyak kata-kata yang hidup dalam masyarakat dimasukkan ke dalam bahasa sastra. Begitu pula bahasa-bahsa daerah membuka perkembangan lebih luas bagi bahasa melayu-sekolah, karena banyaknya sastrawan-sastrawan Pujangga Baru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Begitu pula bahasa belanda dan bahasa asing lainnya banyak masuk ke dalam bahasa Pujangga Baru. Bahkan dalam Belenggu karya Armijn pane, pengarangnya harus menyertakan daftar kata-kata yang diambilnya dari bahasa belanda dan bahasa asing lainnya untuk diterjemahkan. Namun bagaimanapun rintisan Pujangga Baru ini kelak akan melahirkan apa yang disebut bahasa Indonesia.

2.2.3 Hasil Kesusastraan Pujangga Baru
I. Jenis Prosa
Sebagian besar hasil kesusastraan Pujangga Baru berupa prosa, misalnya:
a. Roman
1. Mengenai bahasanya
Sudah lebih banyak mempergunakan bahasa yang sesuai dengan pergaulan modern. Ungkapan, kiasan dan juga perbandingan serba baru menurut kepribadian pengarang, dengan tidak adanya cara meniru satu sama lain. Perkembangan bahasa lebih maju, dan berkembang susunan bahasa melayu kuno dalam setiap karangan.
2. Mengenai cara mengarang
a. Dilukiskannya para pelaku dengan segala perwatakannnya, dan seolah-olah pengarang tidak akan memberikan pendapat apa-apa. Semua kesimpula diserahkan kepada para pembacanya sendiri. Segala citacita pengarang digambarkan lewat para pelakudengan segala permasalahannya masing-masing.
b. Lagipula para pelaku dalam roman Pujangga baru digambarkan seperti hidup bergerak, berdialog atau bersoal jawb sebagaimana orang biasa. Sedang pembacanya diajak memasuki suasana pikira para pelakunya. Pembacanya seperti ikut terlibat di dalamnya.
c. Roman Pujangga Baru jga mengutamakan segi psikologi, segi kejiwaan. Dilukiskanny apara pelaku dengan jalan pikiran dan kehidupan jiwnya masing-msing dalam menghadapi semua persoalan. Dengan demikian hampir semua roman angkatan ini mengandung analisa psikologis (ilmu jiwa).
3. Mengenai isinya
Sesuai dengan semangat pembaruan dan kebangusan bangsa Indonesia pada waktu itu, maka isi roman Pujangga baru juga menyangkut masalah yang kompleks. Tidak sekedar kawin paksa, masalah adat yang kolot model balai pustaka, tetapi sudah menjangkau problema hidup masyrakat banyak. Misalnya tentang politik, social, ekonomi, budaya, agama, pendidikan dan sebagainya. Cita-cita mereka dituangkan dalam bentuk cerita roman yang mengandung gambaran masyarakat Indonesia modern.
4. Mengenai cara melukiskan cerita
Pada umumnya cara melukiskan cerita dalam roman pujangga baru selalu bercorak “romantis idealis”, yaitu berdasarkan cita-cita pengarang yang terkandung dlam hati nuraninya. Hal-hal yang tidak memuaskan dan keadaan yang tidak menggembirakan, karena adanya kepincangan dalam masyarakat waktu itu, digambarkan secara jelas. Cita-cita kearah apa yang disebut baru, dibayangkan sebagai sesuatu yang indah, seindah-indahnya. Mereka terpesona oleh gambaran yang indah permai tentang masyarakat Indonesia baru itu.
b. Novel/Cerpen
Sebenarnya tidak banyak novel/cerpen yang dihasilkan oleh Pujangga Baru. Tidak seperti angkatan 45 yang memang mengembangkan bentuk novel/cerpen ini menjadi karya cipta yang memadai lahirnya angkatan kemerdekaan itu. Beberapa cerpen yang tidak begitu terkenal misalnya:
- “Kisah antara Manusia” oleh Armijn pane. Beberapa cerpennya diciptakan sesudah tahun 1945.
- Cerpen-cerpen yang ditulis dalam majalah “Panji Pustaka” oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
c. Kritik dan Essay
Penulisan kritik dan essay sejak lahirnya Pujangga Baru, mulai terarah dan teratur. Masalah-masalah yang menjadi tinjauan uatama ketika itu ialah masalah bahasa, kesusastraan, kebudayaan, juga dikupas soal “pengaruh barat” dalam segala segi kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya.
d. Drama
Hilangnya rasa kesukuan dan lahirnya perasaan kebangsaan Indonesia, maka lahir pula kesusastraan nasional yang tinggi. Gerakan sstra modern ini tentu tidak dapat dilepaskan dengan makin meningkatnya kesadaran nasional itu. Banyak cerita drama yang menggmbarkan kebesaran-kebesaran Indonesia di masa silam, yang erat hubungannya dengan peristiwa sejarah tanah air.

II. Jenis Puisi
Pada zaman Pujangga Baru, perkembangan puisi lebih maju daripada angkatan sebelumnya. Lagi-lagi unsur kesadaran nasional dan semangat untuk bebas telah mengilhami mereka untuk mencipta dan berkarya. Sebagai akibat dari pergaulannya dengan bangsa barat; terutama bidang sastra, para pemuda terpelajar berusaha ingin mencampakkan ikatan-ikatan puisi lama yang tradisional. Terpancar dari puisi mereka yang penuh berisi perasaan bebas, cinta tanah air, benci terhadap kolonialisme. Puisi Pujangga Baru adalah puisi bebas dalam ikatan atau terikat dalam kebebasan.


BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Kesusastraan balai Pustaka memiliki perbedaan dari ciri-ciri masing-masing yaitu: a. Bersifat kedaerahan,Persoalan yang digarap dalam sastra Balai Pustaka adalah persoalan yang hanya terjadi di Sumatra barat. b. Bersifat romantik-sentimental, Banyak roman Balai Pustaka yang mematikan tokoh-tokoh utamanya. kecil sudah penuh dengan perjalanan penderitaan dn berakhir dengan kematian. c. Bergaya bahasa Balai Pustaka, Gaya pengucapan dan bahasa roman Balai Pustaka boleh dikatakan seragam, dan justru diseragamkan. d. Bertema Sosial, Jarang Roman Balai pustaka yang menggarap secara khusus problem watak, agama atau politik. Memang dalam beberapa hal para pengarangnya dibatasi dalam mengungkapkan pengalaman hidupnya.
Kesusatraan Pujangga baru memiliki perbedaan dari ciri-ciri yaitu: a. Sastra majalah, Sastra Balai Pustaka dan sastra Melayu –Rendah berpusat pada penerbit buku, makanya yang dilahirkan kebanyakan berupa roman, syair dan drama yang memang cukup panjang jalan ceritanya. Tetapi sejak sastra Pujangga Baru timbullah sastra majalah. Artinya banyak penulisnya yang melahirkan karya-karyanya lewat majalah. b. Romantik, Lahirnya angkatan Pujangga Baru di tengah-tengah pergolakan kebangsaan, memberi pengaruh terhadap para sastrawannya. c. Lambang, Kiasan dan Metafora, Ciri yang menonjol dari puisi pujangga baru adalah penggunaan lambing dan kiasan. d. Berbahasa Indonesia, Bahasa yang digunakan dalam sastra Pujangga Baru adalah bahasa yang lain dengan sastra Balai Pustaka.

3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran-saran yang perlu penulis sampaikan dalam makalah ini adalah disarankan kepada pembaca ataupun para ahli untuk membahas perbedaan dari angkatan balai pustaka dan pujangga baru mengenai hasil kesusastraannya.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Roeslan M. 1983. Selayang Pandang Kesusastraan Indonesia. Surabaya: Indah.

Nursito. 2000. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Rani, Supratman Abdul dan Yani Maryani. 2006. Intisari Sastra Indonesia. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Sumardjo, Jakob. 1992. Lintasan Indonesia Modern jilid I. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Yandianto. 2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia. Bandung: CV.M2S BANDUNG.



























Lampiran

Jenis Perbedaan BALAI PUSTAKA PUJANGGA BARU
Latar Belakang Balai Pustaka adalah suatu badan yang merupakan penjelmaan dari “Commissie voor de Volkslectuur” atau dalam bahasa indonesianya: “ Komisi Untuk Bacaan Rakyat” yang berkedudukan di Jakarta dan dibentuk oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908. Komisi untuk bacaan rakyat didirikan, juga disebabkan politik ethis Belanda, politik balas jasa, untuk mengambil hati rakyat Indonesia. Dalam manifestasi Pujangga baru dinyatakan bahwa fungsi kesusastraan, selain melukiskan atau menggambarkan tinggi rendahnya budaya dan martabat suatu bangsa, juga mendorong bangsa tersebut ke arah kemajuan.
Ciri-ciri a. Bersifat kedaerahan
b. Bersifat romantik-sentimental
c. Bergaya bahasa Balai Pustaka
d. Bertema Sosial

a. Sastra majalah
b. Romantik
c. Lambang, Kiasan dan Metafora
d. Berbahasa Indonesia


Hasil Kesusastraan Jenis Prosa: Roman, Novel/cerpen, drama, kritik dan essay
Jenis Puisi: Puisi Lama
Jenis Syair Jenis Prosa: Roman, Novel/Cerpen, drama, kritik dan essay.
Jenis Puisi: puisi bebas dalam ikatan.
»»  READMORE...

Morfologi

KATA

Pengertian Kata
Charles F. Hockett (1958) mengatakan bahwa kata merupakan tiap segmen dari sebuah kalimat yang diapit oleh sendi-sendi yang berturut-turut yang memungkinkan adanya kesenyapan.
Bloomfield (1933) mendefinisikan kata sebagai satu bentuk yang dapat diujarkan tersendiri dan bermakna, tetapi bentuk itu tidak dapat dipisahkan atas bagian-bagian yang (satu diantaranya atau mungkin juga semua unsurnya) tidak dapat diujarkan tersendiri sementara tetap mengandung makna.
Ramlan (1997) mengatakan “kata adalah satuan bebas yang paling kecil, atau dengan kata lain, setiap satu satuan bebas merupakan kata”.
Berikut adalah contoh kata :
Main : dapat diujarkan tersendiri, bermakna dan tidak dapat dipecah lagi menjadi bentuk yang lebih kecil dan bermakna.
mainan = main + -an tidak dapat berdiri sendiri dan tidak bermakna.
Dengan kata lain, kata adalah satuan bebas yang paling kecil atau setiap satuan bebas merupakan kata.

Struktur Kata
1. Monomorfemis merupakan kata yang terbentuk dari satu morfem dan morfem yang membentuknya tentu saja morfem bebas. Contohnya : meja, kursi, rumah dan lain-lain.
2. Polimorfemis merupakan kata yang bisa terbentuk dari dari dua morfem, tiga morfem, empat morfem atau lebih, tergantung dari sistem bahasa yang bersangkutan. Biasanya morfem tersebut hadir dalam kata bersifat kronologis atau suatu kejadian. Contohnya : bepergian, perumahan, beterbangan dan lain-lain.
Struktur kata memperjualbelikan
Mem- Per- jual beli -kan
Per- jual beli -kan
jual beli -kan
jual beli
Berikut adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh sebuah kata :
1. Kata boleh terdiri dari satu morfem bebas saja (kata sederhana). Contoh : muda, sakit, makan dan minum.
2. Kata boleh terdiri dari satu morfem bebas dengan sekurang-kurangnya satu morfem terikat (kata kompleks). Contoh : pemuda, makanan, minuman.
3. Kata boleh terdiri dari satu morfem terikat atau lebih dengan satu morfem terikat lagi (kata kompleks). Contoh : berjuang, memperjuangkan, bertemu, mempertemukan.
4. Kata boleh terdiri dari satu morfem bebas ditambah satu morfem bebas atau satu morfem dasar terikat (kata majemuk). Contoh : sapu tangan, orang tua.

Bentuk Asal dan Bentuk Dasar
Bentuk asal ialah satuan yang paling kecil yang menjadi asal sesuatu kata kompleks (Ramlan, 1997). Bentuk dasar ialah satuan, baik tunggal maupun kompleks, yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar ( Ramlan, 1997). Contoh kata memperjualbelikan :
Bentuk asal : jual dan beli
Bentuk dasar : perjualbelikan, jual belikan, jual beli

Kata Monomorfemis dan Kata Polimorfemis
Kata monomorfemis ialah kata yang hanya terdiri dari satu morfem dan kata polimorfemis adalah kata yang terdiri dari dua morfem atau lebih.












AFIKSASI



Pengertian Afiksasi
Afiksasi atau pengimbuhan ialah pembentukan kata dengan membubuhkan afiks (imbuhan) pada morfem dasar, baik morfem dasar bebas maupun morfem dasar terikat. Hasil dari proses morfologis ini ialah kata yang berafiks atau kata kompleks. Satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar disebut bentuk dasar. Bentuk kata dasar tercepat adalah cepat, bentuk dasar kata rumah-rumahan adalah rumah, dan bentuk dasar kata terang benderang adalah terang.

Afiks
Afiks adalah bentuk atau morfem terikat yang dipakai untuk menurunkan kata. Afiks dalam bahasa Indonesia dapat dibagi empat, yaitu prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks. Kata seperti bermain, gelembung, bukukan, berkeinginan terdiri atas kata dasar main, gembung, buku, dan ingin yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk yang berwujud ber-, -el, -kan, dan ke-an. Keempat bentuk terikat tersebut adalah afiks atau imbuhan.

Prefiksasi
Awalan (prefiks) adalah imbuhan yang dilekatkan di depan dasar (mungkin kata dasar, mungkin pula kata jadian). Di dalam bahasa Indonesia terdapat delapan awalan, yaitu ber-, dan per-; meng- dan di-; ter-, ke-, dan se-, seperti:
bersegi dan persegi, bertinju dan petinju
menggali dan penggali, meninju dan peninju
dilipat dan ditiru, dilihat dan tertawa
kedua dan keempat
sedesa dan setempat





Infiksasi
Infiks atau sisipan adalah imbuhan yang dilekatkan di tengah dasar. Bahasa Indonesia memiliki empat buah, yaitu –el, -em, -er, dan –in, seperti:
Getar → gelegar geger →gelegar
Getar → gemetar kelut → kemelut
Gigi → gerigi
Kerja → kinerja

Sufiksasi
Sufiks atau akhiran adalah imbuhan yang dilekatkan pada akhir kata dasar. Bahasa Indonesia memiliki akhiran –i, -kan, -an, -man, -wan, -wati, wi (-wiah), dan –nya, seperti:
Ambil →ambili. Ambilkan, ambilan
Seni →seniman
Warta → wartawan, wartawati
Dunia → duniawi
Turun → turunnya
Karena adanya kontak dengan bahasa-bahasa lain, kini bahasa Indonesia juga memiliki afiks-afiks yang berasal dari bahasa asing: -wan, -wati, -at, -in, -isme, -(is) asi, -logi, dan –tas.

Konfiksasi
Konfiks, lazim juga disebut imbuhan terbelah, adalah imbuhan yang dilekatkan sekaligus pada awal dan akhir dasar. Konfiks harus diletakkan sekaligus pada dasar ( harus mengapit dasar) karena konfiks merupakan imbuhan tunggal, yang tentu saja memiliki satu kesatuan bentuk dan satu kesatuan makna, seperti:
a. konfiks ke-…-an pada keuangan, kematian, dan keahlian
b. konfiks ber-…-an pada berhamburan, bertabrakan, dan berciuman
c. konfiks peng-…-an pada penemuan, pengalaman, dan pengambilan
d. konfiks per-…-an pada perjuangan, pergaulan, dan pertemuan
e. konfiks se-…-nya pada sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya
»»  READMORE...

Kalimat

SINTAKSIS


A. Pengertian Sintaksis
Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. (Ramlan,2001) mengatakan bahwa ”Sintaksis adalah bahagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat”. Ada pula yang mengatakan bahwa “Sintaksis adalah salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase” (Tarigan, 1985). Dari pendapat pakar tersebut, sintaksis merupakan cabang dari tata bahasa yang berhubungan dengan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase. Menurut Ramlan “sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase”. Satuan wacana terdiri dari unsur-unsur yang berupa kalimat, satuan kalimat terdiri dari unsur atau unsur-unsur yang berupa klausa, satuan klausa terdiri dari unsur-unsur yang berupa frase dan frase terdiri dari unsur-unsur yang berupa kata. Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa berusaha menjelaskan unsur-unsur suatu satuan serta hubungan fungsional maupun hubungan maknawi. dari pengertian diatas menurut Kridalaksana(1982) “sintaksis adalah Pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan- satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata”. Pengertian tersebut hampir sama dengan pengertian dari KBBI (2001:1072) yaitu sintaksis adalah (1) pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar (2) cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat. Jadi pengertian dari beberapa pakar tersebut dapat disimpulkan Sintaksis adalah Salah satu cabang dari tata bahasa yang mempelajari struktur bahasa serta hubungan dan bagian-bagiannya, yaitu hubungan antara kata dengan kata, kata dengan frase, frase dengan frase, frase dengan kata, frase dengan kalimat, kalimat dengan kata, kalimat dengan frase, kalimat dengan kalimat.









KALIMAT


A. Pengertian Kalimat
Telah diketahui bahwa sintaksis merupakan ilmu yang mempelajari tata kalimat. Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan kalimat. Ramlan (1987:6) mengatakan: “kalimat ialah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun dan naik”. Dalam definisi Ramlan menyatakan jeda atau intonasi yang merupakan salah satu alat sintaksis yang sangat penting. Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa, seperti yang telah dikemukakan oleh Keraf (1978:156) bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran, yang didahului oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa ujaran itu sudah lengkap.
Alisjahbana (1978:58) mengatakan: “kalimat ialah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran lengkap”. Melihat definisinya, dapat dilihat persamaan dari Alwi dkk (1998:311) yaitu merumuskan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan dan tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, tanda seru. Sementara itu, di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma, titik dua, tanda pisah, dan spasi.
Menurut Chaer (2000:27) mendefinisikan kalimat adalah satuan bahasa yang berisi suatu pikiran atau amanat yang lengkap. Melihat batasan-batasan kalimat menurut tiga pakar linguis yaitu Alisjahbana, Alwi, dan Chaer dapat dilihat persamaannya pada kelompok kata: “yang mengandung pikiran yang lengkap”.
Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Cook,1971:39-40; Elson and Picket, 1969:82 menyatakan kalimat ialah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa. hal yang sama pada Kridalaksana (2001:494) merumuskan kalimat sebagai satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri darai klausa, klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan. satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan yang bebas, jawaban minimal, satuan, salam dan sebagainya; konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan.
Dalam ruang lingkup linguistik mendefinisikan kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. didalam KBBI (2001:494) kalimat didefinisikan sebagai (1) kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan (2) perkataan.
Definisi kalimat dikemukakan oleh Parera (1978:10) bahwa kalimat adalah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas. Fokker (1960:9) mengatakan: “ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan turunannya suara menjadi cirinya sebagai batas keseluruhannya”.
Dapat diketahui lagi definisi lain yaitu Wojowasito (1976:134) bahwa kalimat adalah rentetan/rangkaian kata atau kelompok kata yang tidak mempunyai hubungan dengan lain-lain kata atau kelompok kata yang berada yang berada di luarnya dan memiliki kesatuan bunyi yang berdaulat. Menurut Malik dkk merumuskan pengertian kalimat dengan sederhana yaitu salah satu satuan dasar bahasa. Berbeda dengan pendapat Kusno (1990:100) bahwa kalimat adalah rangkaian kata yang berstruktur, dengan menggunakan acuan yang berupa teori ilmu bahasa.
Berdasarkan batasan-batasan dari para ahli linguis sebelumnya dapat dihasilkan bahwa kalimat adalah satuan bahasa dan dapat berdiri sendiri, dalam wujud lisan dan tulisan yang dapat menuangkan dan mengungkapkan gagasan-gagasan pikiran yang utuh.





B. Jenis-Jenis Kalimat
1. Kalimat Menurut Bentuk
Menurut bentuk, kalimat terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat. dari definisi tersebut Arifin, 2004:64 juga merumuskan bahwa kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Jika menurut (Cook, 1971:38;Elson and Picket :23) mendefinisikan kalimat tunggal yaitu kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas dan satu klausa terikat.
Contoh:
- Dosen itu ramah.
- Mahasiswa berdiskusi.
Berdasarkan bentuk predikatnya, kalimat tunggal terbagi ke dalam tiga jenis:
1) Kalimat Nominal adalah kalimat yang predikatnya kata benda.
Contoh:
- Mereka guru-guru yang rajin
2) Kalimat Verbal adalah kalimat yang predikatnya kata kerja.
Contoh:
- Adik makan pisang goreng.
3) Kalimat Ajektival adalah kalimat yang predikatnya kata sifat.
Contoh:
- Pernyataan orang itu benar.
2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua pola kalimat yaitu berupa subjek, predikat mupun keterangan. Kalimat majenuk dapat dibentuk dari panduan beberapa buah kalimat tunggal. Kalimat majemuk dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yakni kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat dan kalimat majemuk campuran.
a. Kalimat majemuk setara.
Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat setara. Berdasarkan kata penghubung yang digunakannya, kalimat majemuk setara terbagi menjadi empat macam.
1) Kalimat majemuk setara penjumlahan, ditandai oleh kata penghubung dan atau serta.
Contoh:
- Kami membaca dan mereka menulis.
- Ibu mengambil handuk yang bersih dan mengompres Via.
2) Kalimat majemuk setara pemilihan, ditandai oleh kata penghubung atau.
Contoh:
- Saya tidak tahu apakah dia akan ikut atau tidak.
3) kalimat majemuk setara pertentangan, ditandai oleh kata penghubung tetapi, melainkan.
Contoh:
- Saya tidak membaca buku itu , melainkan hanya melihat sampulnya.
- Adikku belum bersekolah, tetapi dia sudah bisa membaca surat kabar.
4) Kalimat majemuk setara perurutan, ditandai oleh kata penghubung lalu dan kemudian.
Contoh:
- Acara serah terima pengurus koerasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa selamat.

b. Kalimat majemuk bertingkat.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya tidak sederajat. Salah satu unsurnya ada yang menduduki induk kalimat, sedangkan unsur yang lain sebagai anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat antara lain meliputi jenis-jenis berikut:
1) Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai oleh konjungsi sejak, sewaktu, ketika, setelah, sampai, manakala dan sebagainya.
Contoh:
- Sejak kakak berangkat, dia belum datang lagi ke sini.
- Ia baru kembali ke desa setelah biaya untuk melanjutkan kuliahnya tidak ada.
2) Kalimat majemuk hubungan syarat, ditandai oleh konjungsi jika, seandainya, andaikan, asalkan, apabila.
Contoh:
- Jika anda mau menerimanya, saya tentu senang sekali.
- Hatiku bertambah sedih apabila aku teringat teman kecilku dulu.
3) Kalimat majemuk hubungan tujuan, ditandai oleh konjungsi agar, supaya, biar.
Contoh:
- Ayah bekerja sampai malam biar anaknya dapat melanjutkan sekolahnya.
- Saya sengaja meninggalkan rumah agar adik-adik bisa mandiri.
4) Kalimat majemuk hubungan konsesip, ditandai oleh konjungsi walaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, kendatipun, sungguhpun, betapa pun.
Contoh:
- Walaupun hatinya sangat sedih, dia tidak pernah menangis.
- Ibu melepaskan Andi pergi betapa pun besar cintanya.
5) Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai oleh kata penghubung daripada, seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana.
Contoh:
- Daripada menganggur, lebih baik kamu mengolah kebun itu.
- Saya akan menolongmu sebagaimana ayahmu juga menolong keluargaku.
6) Kalimat majemuk hubungan penyebaban, ditandai oleh kata penghubung sebab, karena, oleh karena.
Contoh:
- Pekerjaan di perusahaan itu saya lepaskan sebab saya sudah memutuskan untuk kuliah kembali.
- Karena tiga hari tidak masuk sekolah, Susi mendapat peringatan keras dari kepala sekolahnya
7) Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai oleh kata penghubung sehingga, maka.
Contoh:
- Ia terlalu bekerja keras sehingga jatuh sakit.
- Kami tidak setuju, maka kami preotes.
8) Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai oleh kata penghubung dengan.
Contoh:
- Dengan cara menggendongnya, anak itu ia bawa ke rumah orang tuanya.
9) Kalimat majemuk hubungan sangkalan, ditandai oleh konjungsi seolah-olah, seakan-akan.
Contoh:
- Dia diam saja seakan-akan dia tidak mengetahui persoalan yang terjadi.
- Keadaan di dalam kota kelihatan tenang, seolah-olah tidak ada suatu apapun yang terjadi.
10) Kalimat majemuk hubungan kenyataan, ditandai oleh konjungsi padahal, sedangkan.
Contoh:
- Pura-pura tidak tahu padahal dia tahu banyak.
- Para tamu sudah siap, sedangkan kita belum siap.
11) Kalimat majemuk hasil, ditandai oleh konjungsi makanya.
Contoh:
- Lantai ini licin, makanya kamu jatuh.
12) Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai oleh kata penghubung bahwa, yaitu,
Contoh:
- Berkas riwayat hidupnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pelajar teladan.
13) Kalimat majemuk hubungan atributif, ditandai oleh konjungsi yang.
Contoh:
- Pamannya yang tinggal di Jakarta itu, sedang di rawat di rumah sakit.
- Laki-laki yang berbaju putih itu adalah teman baikku.

c. Kalimat majemuk campuran.
Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat.
Contoh:
- Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak dating dan ibu selesai memasak.
- Orang tua yang sedang duduk-duduk di pinggir kolam dan membuka-buka koran itu adalah tetangga kami.

2. Kalimat Menurut Segi Maknanya
Menurut segi maknanya, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat pernyataan (berita), kalimat pertanyaan, kalimat perintah, kalimat penegas, dan kalimat seruan. Semua kalimat itu dapat disajikan dalam bentuk positif atau dapat pula disajikan dalam bentuk negatif. Dalam ragam lisan, intonasi merupakan salah satu yang menjelaskan dari apa yang diucapkan. Dalam ragam tulisan, tanda baca yang merupakan penjelasannya.
Menurut Cook, 1971:38 menyatakan bahwa kalimat pernyataan(berita), kalimat pertanyaaan, kalimat perintah diklasifikasikannya kalimat dipandang dari segi jenis responsi yang diharapkan. sedangkan menurut Ramlan, 1987:26 mengklasifikasikan berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh.
1. Kalimat Pernyataan/Berita (Deklaratif)
Kalimat berita menyampaikan berita pernyataan. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan responsi tertentu. (Cook, 1971:38). Menurut Ramlan (1987:27) menyatakan kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian.
Contoh:
- Indonesia menggunakan sistem anggaran berimbang.
- Jalan itu sangat licin.
2. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)
Kalimat tanya mengajukan pertanyaan. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing reponsi yang berupa jawaban. (Cook, 1971:38). Menurut Ramlan (1987:28) menyatakan bahwa kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesuatu.
Contoh:
- Mengapa dia gagal dalam ujian?
- Kapan saudara berangkat ke Singapura?
3. Kalimat Perintah (Imperatif)
Kalimat perintah memberikan perintah kepada yang bersangkutan. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan. (Cook, 1971:38). Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan sesuatu.
Contoh:
- Dilarang merokok di ruangan ini!
- Masuk, Ani!
4. Kalimat Penegas (Emfatik)
Kalimat penegas memberikan penegasan khusus kepada pokok pembicaraan.
Contoh:
- Dia membocorkan rahasia itu.
- Dialah yang membocorkan rahasia itu.
5. Kalimat Seruan (Eksklamatif)
Kalimat seruan mengungkapkan perasaan keheranan atau kekaguman atas sesuatu yang disertai kata seperti alangkah atau bukan main. Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat” atau yang mendadak.
Contoh:
- Bukan main sulitnya soal itu
- Alangkah indahnya pemandangan di danau ini.

3. Kalimat Menurut Segi Peranan Fungsinya
Menurut segi peranan fungsinya kalimat dapat di kelompokkan empat bagian, yaitu kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial, kalimat resiprokal. sedangkan menurut (Cook,
Elson and Picket, francis, dan Stryker dalam Dr. Henry Guntur Tarigan “Prinsip-prinsip dasar sintaksis”. mengklasifikasikan kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial, kalimat resiprokal dapat dipandang dari sifat hubungan aktor aksi.
1. Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya melakukan suatu pekerjaan. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperanan sebagai pelaku atau aktor.(Cook,1971:49). Ciri penting yang menandai kalimat aktif, predikat kalimat itu berupa kata kerja yang berawalan me(N)- dan ber-. Namun demikian, tidak sedikit kalimat aktif yang predikatnya tidak disertai kedua imbuhan tersebut, misalnya yang terjadi pada kata makan dan minum.
Berdasarkan hubungan antara predikat dengan objeknya, kalimat aktif dapat dibagi kedalam empat kelompok:
a. Kalimat aktif transitif, yakni kalimat aktif yang predikatnya memerlukan objek.
Contoh: - Kami tidak mengetahui masalah itu.
- Pemerintah tengah mengembangkan anggaran dasar.
b. Kalimat aktif semitransitif, yakni kalimat yang predikatnya memerlukan pelengkap.
Contoh: - Usahanya hanya bermodalkan kejujuran.
- Anak itu kedapatan mencuri.
c. Kalimat aktif dwitransitif, yakni kalimat yang memerlukan objek dan pelengkap secara sekaligus.
Contoh: - Adik meminjami temannya sebuah buku.
- Kakak membelanjai ibu pakaian.
d. Kalimat aktif intransitif, yakni yang predikatnya tidak memerlukan objek ataupun pelengkap.
Contoh: - Putra akan pergi besok pagi.
- Pekerjaannya menulis.
2. Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. kalimatpasif ditandai oleh predikatnya yang berawalan di- atau ter-.
Contoh:
- Via terkejut mendengar kematian sahabatnya.
- Tugas ini harus kami ketik kembali.
3. Kalimat Medial
Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperanan baik sebagai pelaku maupun penderita.(Cook.1971:49)
Contoh:
- Aku menjatuhkan diriku.
- Dia memukuli pahanya.
4. Kalimat Resiprokal
Kalimat resiprokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan suatu perbuatan yang berbalas-balasan.
Contoh:
- Kita harus bahu-membahu menolong orang yang sedang kesusahan.
- Rina sering cibir-mencibir dengan Ela padahal mereka berteman.

4. Kalimat Menurut Segi Lengkap atau Tidak
1. Kalimat Formata
Kalimat formata adalah kalimat tunggal dan sempurna.
2. Kalimat Transformata
Kalimat transformata adalah kalimat lengkap tetapi bukan kalimat tunggal. kalimat transformata ini mencakup kalimat bersusun dan kalimat majemuk.


3. Kalimat Deformata
Kalimat deformata adalah kalimat tunggal yang tak sempurna, tidak lengkap.Yang termasuk ke dalam golongan kalimat deformata ini adalah:
a. Kalimat urutan adalah kalimat sempurna yang mengandung konjungsi seperti maka, jadi, tetapi, sedangkan, dan sebagainya.
b. Kalimat sampingan adalah kalimat tak sempurna yang terdiri dari klausa terikat, dan diturunkan dari kalimat bersusun.
c. Kalimat ellips adalah kalimat tak sempurna yang terjadi karena pelenyapan beberapa bagian dari klausa, dan diturunkan dari kalimat tunggal.
d. Kalimat tambahan adalah kalimat tak sempurna yang terdapat dalam wacana sebagai tambahan pada pernyataan-pernyataan yang telah dikemukakan.
e. Kalimat jawaban adalah kalimat tak sempurna yang bertindak sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan.
f. Kalimat seruan adalah kalimat pendek yang biasanya berpola tetap dengan intonasi tertentu. Menurut Charlina dkk menyatakan kalimat seruan adalah kalimat yang dapat terikat atau tidak, yang dalam bahasa indonesia terjdi dari klausa bebas ditambah dengan partikel seru seperti alangkah, bukankah. atau terjadi dari struktur bukan klausa berupa kata seperti aduh, wah, amboi.

5. Kalimat Menurut Segi Ada atau Tidaknya Unsur Negatif
1. Kalimat Afirmatif
Kalimat Afirmatif adalah kalimat yang tidak terdapat unsur negatif atau unsur penindakan, ataupun unsur penyangkalan.
Contoh:
- Mereka membaca buku.
- Ibu memasak sayur.
2. Kalimat Negatif
Kalimat negatif atau kalimat penyangkalan adalah kalimat yang terdapat unsur negatif atau unsur penyangkalan.
Contoh:
- Saya tidak membaca novel.
- Rani tidak membawa surat.
»»  READMORE...

Kalimat


SINTAKSIS


A. Pengertian Sintaksis
Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. (Ramlan,2001) mengatakan bahwa ”Sintaksis adalah bahagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat”. Ada pula yang mengatakan bahwa “Sintaksis adalah salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase” (Tarigan, 1985). Dari pendapat pakar tersebut, sintaksis merupakan cabang dari tata bahasa yang berhubungan dengan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase. Menurut Ramlan “sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase”. Satuan wacana terdiri dari unsur-unsur yang berupa kalimat, satuan kalimat terdiri dari unsur atau unsur-unsur yang berupa klausa, satuan klausa terdiri dari unsur-unsur yang berupa frase dan frase terdiri dari unsur-unsur yang berupa kata. Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa berusaha menjelaskan unsur-unsur suatu satuan serta hubungan fungsional maupun hubungan maknawi. dari pengertian diatas menurut Kridalaksana(1982) “sintaksis adalah Pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan- satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata”. Pengertian tersebut hampir sama dengan pengertian dari KBBI (2001:1072) yaitu sintaksis adalah (1) pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar (2) cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat. Jadi pengertian dari beberapa pakar tersebut dapat disimpulkan Sintaksis adalah Salah satu cabang dari tata bahasa yang mempelajari struktur bahasa serta hubungan dan bagian-bagiannya, yaitu hubungan antara kata dengan kata, kata dengan frase, frase dengan frase, frase dengan kata, frase dengan kalimat, kalimat dengan kata, kalimat dengan frase, kalimat dengan kalimat.









KALIMAT


A. Pengertian Kalimat
Telah diketahui bahwa sintaksis merupakan ilmu yang mempelajari tata kalimat. Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan kalimat. Ramlan (1987:6) mengatakan: “kalimat ialah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun dan naik”. Dalam definisi Ramlan menyatakan jeda atau intonasi yang merupakan salah satu alat sintaksis yang sangat penting. Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa, seperti yang telah dikemukakan oleh Keraf (1978:156) bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran, yang didahului oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa ujaran itu sudah lengkap.
Alisjahbana (1978:58) mengatakan: “kalimat ialah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran lengkap”. Melihat definisinya, dapat dilihat persamaan dari Alwi dkk (1998:311) yaitu merumuskan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan dan tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, tanda seru. Sementara itu, di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma, titik dua, tanda pisah, dan spasi.
Menurut Chaer (2000:27) mendefinisikan kalimat adalah satuan bahasa yang berisi suatu pikiran atau amanat yang lengkap. Melihat batasan-batasan kalimat menurut tiga pakar linguis yaitu Alisjahbana, Alwi, dan Chaer dapat dilihat persamaannya pada kelompok kata: “yang mengandung pikiran yang lengkap”.
Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Cook,1971:39-40; Elson and Picket, 1969:82 menyatakan kalimat ialah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa. hal yang sama pada Kridalaksana (2001:494) merumuskan kalimat sebagai satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri darai klausa, klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan. satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan yang bebas, jawaban minimal, satuan, salam dan sebagainya; konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan.
Dalam ruang lingkup linguistik mendefinisikan kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. didalam KBBI (2001:494) kalimat didefinisikan sebagai (1) kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan (2) perkataan.
Definisi kalimat dikemukakan oleh Parera (1978:10) bahwa kalimat adalah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas. Fokker (1960:9) mengatakan: “ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan turunannya suara menjadi cirinya sebagai batas keseluruhannya”.
Dapat diketahui lagi definisi lain yaitu Wojowasito (1976:134) bahwa kalimat adalah rentetan/rangkaian kata atau kelompok kata yang tidak mempunyai hubungan dengan lain-lain kata atau kelompok kata yang berada yang berada di luarnya dan memiliki kesatuan bunyi yang berdaulat. Menurut Malik dkk merumuskan pengertian kalimat dengan sederhana yaitu salah satu satuan dasar bahasa. Berbeda dengan pendapat Kusno (1990:100) bahwa kalimat adalah rangkaian kata yang berstruktur, dengan menggunakan acuan yang berupa teori ilmu bahasa.
Berdasarkan batasan-batasan dari para ahli linguis sebelumnya dapat dihasilkan bahwa kalimat adalah satuan bahasa dan dapat berdiri sendiri, dalam wujud lisan dan tulisan yang dapat menuangkan dan mengungkapkan gagasan-gagasan pikiran yang utuh.





B. Jenis-Jenis Kalimat
1. Kalimat Menurut Bentuk
Menurut bentuk, kalimat terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat. dari definisi tersebut Arifin, 2004:64 juga merumuskan bahwa kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Jika menurut (Cook, 1971:38;Elson and Picket :23) mendefinisikan kalimat tunggal yaitu kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas dan satu klausa terikat.
Contoh:
- Dosen itu ramah.
- Mahasiswa berdiskusi.
Berdasarkan bentuk predikatnya, kalimat tunggal terbagi ke dalam tiga jenis:
1) Kalimat Nominal adalah kalimat yang predikatnya kata benda.
Contoh:
- Mereka guru-guru yang rajin
2) Kalimat Verbal adalah kalimat yang predikatnya kata kerja.
Contoh:
- Adik makan pisang goreng.
3) Kalimat Ajektival adalah kalimat yang predikatnya kata sifat.
Contoh:
- Pernyataan orang itu benar.
2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua pola kalimat yaitu berupa subjek, predikat mupun keterangan. Kalimat majenuk dapat dibentuk dari panduan beberapa buah kalimat tunggal. Kalimat majemuk dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yakni kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat dan kalimat majemuk campuran.
a. Kalimat majemuk setara.
Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat setara. Berdasarkan kata penghubung yang digunakannya, kalimat majemuk setara terbagi menjadi empat macam.
1) Kalimat majemuk setara penjumlahan, ditandai oleh kata penghubung dan atau serta.
Contoh:
- Kami membaca dan mereka menulis.
- Ibu mengambil handuk yang bersih dan mengompres Via.
2) Kalimat majemuk setara pemilihan, ditandai oleh kata penghubung atau.
Contoh:
- Saya tidak tahu apakah dia akan ikut atau tidak.
3) kalimat majemuk setara pertentangan, ditandai oleh kata penghubung tetapi, melainkan.
Contoh:
- Saya tidak membaca buku itu , melainkan hanya melihat sampulnya.
- Adikku belum bersekolah, tetapi dia sudah bisa membaca surat kabar.
4) Kalimat majemuk setara perurutan, ditandai oleh kata penghubung lalu dan kemudian.
Contoh:
- Acara serah terima pengurus koerasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa selamat.

b. Kalimat majemuk bertingkat.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya tidak sederajat. Salah satu unsurnya ada yang menduduki induk kalimat, sedangkan unsur yang lain sebagai anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat antara lain meliputi jenis-jenis berikut:
1) Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai oleh konjungsi sejak, sewaktu, ketika, setelah, sampai, manakala dan sebagainya.
Contoh:
- Sejak kakak berangkat, dia belum datang lagi ke sini.
- Ia baru kembali ke desa setelah biaya untuk melanjutkan kuliahnya tidak ada.
2) Kalimat majemuk hubungan syarat, ditandai oleh konjungsi jika, seandainya, andaikan, asalkan, apabila.
Contoh:
- Jika anda mau menerimanya, saya tentu senang sekali.
- Hatiku bertambah sedih apabila aku teringat teman kecilku dulu.
3) Kalimat majemuk hubungan tujuan, ditandai oleh konjungsi agar, supaya, biar.
Contoh:
- Ayah bekerja sampai malam biar anaknya dapat melanjutkan sekolahnya.
- Saya sengaja meninggalkan rumah agar adik-adik bisa mandiri.
4) Kalimat majemuk hubungan konsesip, ditandai oleh konjungsi walaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, kendatipun, sungguhpun, betapa pun.
Contoh:
- Walaupun hatinya sangat sedih, dia tidak pernah menangis.
- Ibu melepaskan Andi pergi betapa pun besar cintanya.
5) Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai oleh kata penghubung daripada, seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana.
Contoh:
- Daripada menganggur, lebih baik kamu mengolah kebun itu.
- Saya akan menolongmu sebagaimana ayahmu juga menolong keluargaku.
6) Kalimat majemuk hubungan penyebaban, ditandai oleh kata penghubung sebab, karena, oleh karena.
Contoh:
- Pekerjaan di perusahaan itu saya lepaskan sebab saya sudah memutuskan untuk kuliah kembali.
- Karena tiga hari tidak masuk sekolah, Susi mendapat peringatan keras dari kepala sekolahnya
7) Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai oleh kata penghubung sehingga, maka.
Contoh:
- Ia terlalu bekerja keras sehingga jatuh sakit.
- Kami tidak setuju, maka kami preotes.
8) Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai oleh kata penghubung dengan.
Contoh:
- Dengan cara menggendongnya, anak itu ia bawa ke rumah orang tuanya.
9) Kalimat majemuk hubungan sangkalan, ditandai oleh konjungsi seolah-olah, seakan-akan.
Contoh:
- Dia diam saja seakan-akan dia tidak mengetahui persoalan yang terjadi.
- Keadaan di dalam kota kelihatan tenang, seolah-olah tidak ada suatu apapun yang terjadi.
10) Kalimat majemuk hubungan kenyataan, ditandai oleh konjungsi padahal, sedangkan.
Contoh:
- Pura-pura tidak tahu padahal dia tahu banyak.
- Para tamu sudah siap, sedangkan kita belum siap.
11) Kalimat majemuk hasil, ditandai oleh konjungsi makanya.
Contoh:
- Lantai ini licin, makanya kamu jatuh.
12) Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai oleh kata penghubung bahwa, yaitu,
Contoh:
- Berkas riwayat hidupnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pelajar teladan.
13) Kalimat majemuk hubungan atributif, ditandai oleh konjungsi yang.
Contoh:
- Pamannya yang tinggal di Jakarta itu, sedang di rawat di rumah sakit.
- Laki-laki yang berbaju putih itu adalah teman baikku.

c. Kalimat majemuk campuran.
Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat.
Contoh:
- Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak dating dan ibu selesai memasak.
- Orang tua yang sedang duduk-duduk di pinggir kolam dan membuka-buka koran itu adalah tetangga kami.

2. Kalimat Menurut Segi Maknanya
Menurut segi maknanya, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat pernyataan (berita), kalimat pertanyaan, kalimat perintah, kalimat penegas, dan kalimat seruan. Semua kalimat itu dapat disajikan dalam bentuk positif atau dapat pula disajikan dalam bentuk negatif. Dalam ragam lisan, intonasi merupakan salah satu yang menjelaskan dari apa yang diucapkan. Dalam ragam tulisan, tanda baca yang merupakan penjelasannya.
Menurut Cook, 1971:38 menyatakan bahwa kalimat pernyataan(berita), kalimat pertanyaaan, kalimat perintah diklasifikasikannya kalimat dipandang dari segi jenis responsi yang diharapkan. sedangkan menurut Ramlan, 1987:26 mengklasifikasikan berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh.
1. Kalimat Pernyataan/Berita (Deklaratif)
Kalimat berita menyampaikan berita pernyataan. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan responsi tertentu. (Cook, 1971:38). Menurut Ramlan (1987:27) menyatakan kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian.
Contoh:
- Indonesia menggunakan sistem anggaran berimbang.
- Jalan itu sangat licin.
2. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)
Kalimat tanya mengajukan pertanyaan. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing reponsi yang berupa jawaban. (Cook, 1971:38). Menurut Ramlan (1987:28) menyatakan bahwa kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesuatu.
Contoh:
- Mengapa dia gagal dalam ujian?
- Kapan saudara berangkat ke Singapura?
3. Kalimat Perintah (Imperatif)
Kalimat perintah memberikan perintah kepada yang bersangkutan. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan. (Cook, 1971:38). Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan sesuatu.
Contoh:
- Dilarang merokok di ruangan ini!
- Masuk, Ani!
4. Kalimat Penegas (Emfatik)
Kalimat penegas memberikan penegasan khusus kepada pokok pembicaraan.
Contoh:
- Dia membocorkan rahasia itu.
- Dialah yang membocorkan rahasia itu.
5. Kalimat Seruan (Eksklamatif)
Kalimat seruan mengungkapkan perasaan keheranan atau kekaguman atas sesuatu yang disertai kata seperti alangkah atau bukan main. Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat” atau yang mendadak.
Contoh:
- Bukan main sulitnya soal itu
- Alangkah indahnya pemandangan di danau ini.

3. Kalimat Menurut Segi Peranan Fungsinya
Menurut segi peranan fungsinya kalimat dapat di kelompokkan empat bagian, yaitu kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial, kalimat resiprokal. sedangkan menurut (Cook,
Elson and Picket, francis, dan Stryker dalam Dr. Henry Guntur Tarigan “Prinsip-prinsip dasar sintaksis”. mengklasifikasikan kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial, kalimat resiprokal dapat dipandang dari sifat hubungan aktor aksi.
1. Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya melakukan suatu pekerjaan. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperanan sebagai pelaku atau aktor.(Cook,1971:49). Ciri penting yang menandai kalimat aktif, predikat kalimat itu berupa kata kerja yang berawalan me(N)- dan ber-. Namun demikian, tidak sedikit kalimat aktif yang predikatnya tidak disertai kedua imbuhan tersebut, misalnya yang terjadi pada kata makan dan minum.
Berdasarkan hubungan antara predikat dengan objeknya, kalimat aktif dapat dibagi kedalam empat kelompok:
a. Kalimat aktif transitif, yakni kalimat aktif yang predikatnya memerlukan objek.
Contoh: - Kami tidak mengetahui masalah itu.
- Pemerintah tengah mengembangkan anggaran dasar.
b. Kalimat aktif semitransitif, yakni kalimat yang predikatnya memerlukan pelengkap.
Contoh: - Usahanya hanya bermodalkan kejujuran.
- Anak itu kedapatan mencuri.
c. Kalimat aktif dwitransitif, yakni kalimat yang memerlukan objek dan pelengkap secara sekaligus.
Contoh: - Adik meminjami temannya sebuah buku.
- Kakak membelanjai ibu pakaian.
d. Kalimat aktif intransitif, yakni yang predikatnya tidak memerlukan objek ataupun pelengkap.
Contoh: - Putra akan pergi besok pagi.
- Pekerjaannya menulis.
2. Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. kalimatpasif ditandai oleh predikatnya yang berawalan di- atau ter-.
Contoh:
- Via terkejut mendengar kematian sahabatnya.
- Tugas ini harus kami ketik kembali.
3. Kalimat Medial
Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperanan baik sebagai pelaku maupun penderita.(Cook.1971:49)
Contoh:
- Aku menjatuhkan diriku.
- Dia memukuli pahanya.
4. Kalimat Resiprokal
Kalimat resiprokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan suatu perbuatan yang berbalas-balasan.
Contoh:
- Kita harus bahu-membahu menolong orang yang sedang kesusahan.
- Rina sering cibir-mencibir dengan Ela padahal mereka berteman.

4. Kalimat Menurut Segi Lengkap atau Tidak
1. Kalimat Formata
Kalimat formata adalah kalimat tunggal dan sempurna.
2. Kalimat Transformata
Kalimat transformata adalah kalimat lengkap tetapi bukan kalimat tunggal. kalimat transformata ini mencakup kalimat bersusun dan kalimat majemuk.


3. Kalimat Deformata
Kalimat deformata adalah kalimat tunggal yang tak sempurna, tidak lengkap.Yang termasuk ke dalam golongan kalimat deformata ini adalah:
a. Kalimat urutan adalah kalimat sempurna yang mengandung konjungsi seperti maka, jadi, tetapi, sedangkan, dan sebagainya.
b. Kalimat sampingan adalah kalimat tak sempurna yang terdiri dari klausa terikat, dan diturunkan dari kalimat bersusun.
c. Kalimat ellips adalah kalimat tak sempurna yang terjadi karena pelenyapan beberapa bagian dari klausa, dan diturunkan dari kalimat tunggal.
d. Kalimat tambahan adalah kalimat tak sempurna yang terdapat dalam wacana sebagai tambahan pada pernyataan-pernyataan yang telah dikemukakan.
e. Kalimat jawaban adalah kalimat tak sempurna yang bertindak sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan.
f. Kalimat seruan adalah kalimat pendek yang biasanya berpola tetap dengan intonasi tertentu. Menurut Charlina dkk menyatakan kalimat seruan adalah kalimat yang dapat terikat atau tidak, yang dalam bahasa indonesia terjdi dari klausa bebas ditambah dengan partikel seru seperti alangkah, bukankah. atau terjadi dari struktur bukan klausa berupa kata seperti aduh, wah, amboi.

5. Kalimat Menurut Segi Ada atau Tidaknya Unsur Negatif
1. Kalimat Afirmatif
Kalimat Afirmatif adalah kalimat yang tidak terdapat unsur negatif atau unsur penindakan, ataupun unsur penyangkalan.
Contoh:
- Mereka membaca buku.
- Ibu memasak sayur.
2. Kalimat Negatif
Kalimat negatif atau kalimat penyangkalan adalah kalimat yang terdapat unsur negatif atau unsur penyangkalan.
Contoh:
- Saya tidak membaca novel.
- Rani tidak membawa surat.








































»»  READMORE...