Psikolinguistik

Batasan Linguistik

Psikolinguistik adalah sebuah istilah ilmu bahasa yang terdiri atas gabungan du buah kata, yaitu kata psikologi dan linguistik yang masing-masing merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Psikologi mengkaji proses akal atau proses pikiran sesorang dan mengatur perilakunya. Proses akal atau proses pikiran seseorang itu biasanya menggunakan bahasa, karena bahasa merupakan suatu syarat untuk dapat berpikir. Dengan kata lain, bhwa proses akal atau proses akal atau proses pikiran seseorang itu tergantung pada bahasanya, artinya struktur bahasanyalah yang menentukan proses akal atau struktur pikiran seseorang itu. (Teori Wilhelm von Humboldt, 1838, dan Sapir-Whorf, 1949) meskipun ada pula yang berpendirian sebaliknya, justru proses akal atau proses pikiran itulah yang menentukan aspek-aspek kebahasaan seseorang (Teori Pertumbuhan Kognisi Jean Piaget, 1962). Jean Piaget mengatakan bahwa struktur pikiran seseorang dibentuk oleh aksi atau perilaku kanak-kanak dan bukan oleh struktur bahasa, artinya struktur pikiran mendahului kebolehan-kebolehan yang dipakai kemudian untuk berbahasa.
Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu memahami bahasa akan memungkinkan peneliti untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak yang memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya (Suriasumantri, 1998).
Sebuah uraian yang cukup menarik mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikir dinyatakan oleh Whorf dan Saphir. Whorf dan Sapir melihat bahwa pikiran manusia ditentukan oleh sistem klasifikasi dari bahasa tertentu yang digunakan manusia (Schlenker, 2004). Menurut hipotesis ini, dunia mental orang Indonesia berbeda dengan dunia mental orang Inggris karena mereka menggunakan bahasa yang berbeda.
Hubungan antara bahasa dan pikiran adalah sebuah tema yang sangat menantang dalam dunia kajian psikologi. Sejarah kajian ini dapat ditilik dari psikolog kognitif, filosof dan ahli linguistik. Hipotesis Whorf dan Sapir menyajikan sesuatu yang sangat menantang untuk ditelaah lebih lanjut. Beberapa aspek bahasan yang mempengaruhi pikiran perlu diidentifikasi lebih lanjut, misalnya identifikasi aspek bahasa yang mempengaruhi penalaran ruang bidang (reasoning spatial) dan aspek bahasa yang mempengaruhi penalaran terhadap pikiran lain (reasoning about other minds).
Konsep Sapir dan Whorf mengudang beberapa keberatan di kalangan ahli bahasa dan peneliti psikolinguistik. Dasar yang dipakai sebagai bentuk keberatan tersebut adalah bahwa pikiran yang sama dapat diekspresikan dalam beberapa cara. Manusia dapat mengatakan apa saja yang dimauinya dalam sebuah bahasa sehingga antara satu bahasa dengan bahasa lainnya memiliki karakter yang paralel. Salah satu fakta yang dipaparkan untuk menunjukkan keberatan ini adalah dalam bidang perkembangan. Beberapa kasus di kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa bayi yang belum memiliki bahasa secara optimal sudah mampu menalar lebih dari hal-hal yang menarik bagi mereka. Misalnya usia 3-4 bulan bayi dapat memahami jarak dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan jarak. Usia 5 bulan bayi sudah mampu menalar aritmatika sederhana. Setelah sebelumnya bayi diperlihatkan dua buah objek di tangan, mereka mencoba mencari dua objek tersebut ketika dua objek tersebut disembunyikan. Manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecakan persoalan dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan individu menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa individu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengkomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang yang tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran.
Keterkaitan antara bahasa dan pikiran dimungkinkan karena berpikir adalah upaya untuk mengasosiasikan kata atau konsep untuk mendapatkan satu kesimpulan melalui media bahasa. Bahasa dan pikiran memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi (resiprokal). Variabel berupa domain-domain kognitif dapat dipertimbangkan sebagai pendahulu perkembangan struktur bahasa pada awal tahap perkembangan anak. Namun demikian, ada proses tahapan produksi bahasa (production of language) mungkin lepas atau tidak tergantung pada domain kognitif yang lain. Sebagai bukti misalnya, beberapa individu yang memiliki gangguan keterbatasan bahasa memiliki anterior aphasics di dalam otaknya dengan performansi yang optimal.


Gangguan dalam Berbahasa
A. Developmental language disorders (ganguan perkembangan berbahasa)
1. Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas – gangguan lain yang menyertainya.

2.Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif. Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangat rendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia).
1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.
B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.

1.Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau “mute autistic”. Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.

2.Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)

3.Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).

4.Gangguan sensorik pendengaran yang parah.
C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) – pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.
D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembagian 1 & 2
Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner-syndrom
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).
Sebuah Ilustrasi mengatakan bahwa Stroke Penyebab Gangguan Bahasa Pasca serangan stroke selain meninggalkan kecacatan berupa kelumpuhan juga meninggalkan gangguan berbahasa atau yang dikenal dengan sebutan Afasia. Meskipun gangguan afasia yang dialami pasien stroke hanya sekitar 15 %, namun sangat mengganggu karena mereka akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan individu lain.
Pasca serangan stroke selain meninggalkan kecacatan berupa kelumpuhan juga meninggalkan gangguan berbahasa atau yang dikenal dengan sebutan Afasia. Meskipun gangguan afasia yang dialami pasien stroke hanya sekitar 15 %, namun sangat mengganggu karena mereka akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan individu lain. Menurut dr Silvia Francina Lumempou SpS dari Sub Bagian Fungsi luhur Bagian Neurologi FKUI/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, afasia muncul karena gangguan di bagian-bagian otak yang bertugas memahami bahasa lisan dan tulisan, mengeluarkan isi pikiran, mengintegrasikan fungsi pemahaman bahasa dan mengeluarkannya, serta mengintegrasikan pusat fungsi barbahasa ini dengan lainnya.
Umumnya afasia muncul bila otak kiri terganggu. Soalnya, otak kiri bagian depan berperan untuk kelancaran menuturkan isi pikiran dalam bahasa dengan baik, dan otak kiri bagian belakang untuk mengerti bahasa yang didengar dari lawan bicara. Namun ada beberapa laporan yang menyatakan gangguan ini dapat terjadi di belahan otak kanan, meski kasusnya sangat jarang, paparnya.














Pemerolehan Bahasa
Terdapat beberapa teori mengenai perolehan bahasa pada bayi dan balita yang bersumber pada perkembangan psikologi yang bersifat natur dan nurtur. Natur adalah aliran yang meyakini bahwa kemampuan manusia adalah bawaan sejak lahir. Oleh karena itu manusia telah dilengkapi secara biologis oleh alam (natur) untuk memproduksi bahasa melalui alat-alat bicara (lidah, bibir, gigi, rongga tenggorokan, dibantu oleh alat pendengaran) maupun untuk memahami arti dari bahasa tersebut (melalui skema pada kognisi). Noam Chomsky adalah tokoh yang mempercayai peran natur secara radikal dalam perolehan bahasa. Pihak yang mempercayai kekuatan nurtur dalam perolehan bahasa berargumen bahwa bayi dan balita memperoleh bahasa karena terbiasa pada bahasa ibu. Hal ini terbukti pada pembentukan kemampuan fonem yang tergantung pada bahasa ibu. Misalkan pada bayi Jepang pada usia dibawah 6 bulan masih dapat membedakan fonem ra dan la dengan jelas, namun pada usia satu tahun mereka kesulitan untuk membedakan fonem ra dan la.Michael Tomasello mengkritik Chomsky bahwa bahasa tidak akan muncul begitu saja. Ia meyakini bahwa bahasa diperoleh karena bayi belajar menggunakan bahasa sebagai simbol terlebih dahulu dengan kemampuan bayi untuk melakukan atensi bersama (Join attention) pada saat sebelum bayi mampu memproduksi bahasa. Pada dasarnya natur dan nurtur memiliki kontribusi terhadap perolehan bahasa pada bayi. Menurut Kiparsky sebagaimana dikutip oleh H.G. tarigan (1985:243) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh kanak-kanak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai dirinya dapat memilih berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa tersebut.



Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain dalam masyarakat. Dalam melangsungkan upaya memperoleh bahasa, anak dibimbing oleh prinsip atau falsafah ‘jadilah orang lain dengan sedikit perbedaan’, ataupun ‘dapatkan atau perolehlah suatu identitas sosial dan di dalamnya, dan kembangkan identitas pribadi Anda sendiri’. Sejak dini bayi telah berinteraksi di dalam lingkungan sosialnya. Seorang ibu seringkali memberi kesempatan kepada bayi untuk ikut dalam komunikasi sosial dengannya. Kala itulah bayi pertama kali mengenal sosialisasi, bahwa dunia ini adalah tempat orang saling berbagi rasa.
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167)
Selama pemerolehan bahasa pertama, Chomsky menyebutkan bahwa ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya. Proses yang dimaksud adalah proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) secara tidak disadari. Kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki performansi dalam berbahasa. Performansi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Performansi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar, sedangkan proses penerbitan melibatkan kemampuan menghasilkan kalimat-kalimat sendiri (Chaer 2003:167).
Selanjutnya, Chomsky juga beranggapan bahwa pemakai bahasa mengerti struktur dari bahasanya yang membuat dia dapat mengkreasi kalimat-kalimat baru yang tidak terhitung jumlahnya dan membuat dia mengerti kalimat-kalimat tersebut. Jadi, kompetensi adalah pengetahuan intuitif yang dipunyai seorang individu mengenai bahasa ibunya (native languange). Intuisi linguistik ini tidak begitu saja ada, tetapi dikembangkan pada anak sejalan dengan pertumbuhannya, sedangkan performansi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh kompetensi.
Hal yang patut dipertanyakan adalah bagaimana strategi si anak dalam memperoleh bahasa pertamanya dan apakah setiap anak memiliki strategi yang sama dalam memperoleh bahsa pertamanya? Berkaitan dengan hal ini, Dardjowidjojo, (2005:243-244) menyebutkan bahwa pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak di mana pun juga memperoleh bahasa pertamanya dengan memakai strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama, tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan bekal kodrati pada saat dilahirkan. Di samping itu, dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat-kodrat yang universal ini. Chomsky mengibaratkan anak sebagai entitas yang seluruh tubuhnya telah dipasang tombol serta kabel listrik: mana yang dipencet, itulah yang akan menyebabkan bola lampu tertentu menyala. Jadi, bahasa mana dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input sekitarnya.
Tahap Satu-Kata atau Holofrastis
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran-ujaran yang mengandung kata-kata tunggal diucapkan anak untuk mengacu pada benda-benda yang dijumpai sehari-hari. Pada tahap ini pula seorang anak mulai menggunakan serangkaian bunyi berulang-ulang untuk makna yang sama. pada usia ini pula, sang anak sudah mengerti bahwa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata yang pertama. Itulah sebabnya tahap ini disebut tahap satu kata satu frase atau kalimat, yang berarti bahwa satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap, misalnya “mam” (Saya minta makan); “pa” (Saya mau papa ada di sini), “Ma” (Saya mau mama ada di sini). Mula-mula, kata-kata itu diucapkan anak itu kalau rangsangan ada di situ, tetapi sesudah lebih dari satu tahun, “pa” berarti juga “Di mana papa?” dan “Ma” dapat juga berarti “Gambar seorang wanita di majalah itu adalah mama”. Menurut pendapat beberapa peneliti bahasa anak, kata-kata dalam tahap ini mempunyai tiga fungsi, yaitu kata-kata itu dihubungkan dengan perilaku anak itu sendiri atau suatu keinginan untuk suatu perilaku, untuk mengungkapkan suatu perasaan, untuk memberi nama kepada suatu benda. Dalam bentuknya, kata-kata yang diucapkan itu terdiri dari konsonan-konsonan yang mudah dilafalkan seperti m,p,s,k dan vokal-vokal seperti a,i,u,e.
Tahap Dua-Kata, Satu Frase
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 18-20 bulan. Ujaran-ujaran yang terdiri atas dua kata mulai muncul seperti mama mam dan papa ikut. Kalau pada tahap holofrastis ujaran yang diucapkan si anak belum tentu dapat ditentukan makna, pada tahap dua kata ini, ujaran si anak harus ditafsirkan sesuai dengan konteksnya. Pada tahap ini pula anak sudah mulai berpikir secara “subjek + predikat” meskipun hubungan-hubungan seperti infleksi, kata ganti orang dan jamak belum dapat digunakan. Dalam pikiran anak itu, subjek + predikat dapat terdiri atas kata benda + kata benda, seperti “Ani mainan” yang berarti “Ani sedang bermain dengan mainan” atau kata sifat + kata benda, seperti “kotor patu” yang artinya “Sepatu ini kotor” dan sebagainya.
Ujaran Telegrafis
Pada usia 2 dan 3 tahun, anak mulai menghasilkan ujaran kata-ganda (multiple-word utterances) atau disebut juga ujaran telegrafis. Anak juga sudah mampu membentuk kalimat dan mengurutkan bentuk-bentuk itu dengan benar. Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai beratus-ratus kata dan cara pengucapan kata-kata semakin mirip dengan bahasa orang dewasa. Contoh dalam tahap ini diberikan oleh Fromkin dan Rodman. Pada usia dini dan seterusnya, seorang anak belajar B1-nya secara bertahap dengan caranya sendiri. Ada teori yang mengatakan bahwa seorang anak dari usia dini belajar bahasa dengan cara menirukan. Namun, Fromkin dan Rodman (1993:403) menyebutkan hasil peniruan yang dilakukan oleh si anak tidak akan sama seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Jika orang dewasa meminta sang anak untuk menyebutkan “He’s going out”, si anak akan melafalkan dengan “He go out”. Ada lagi teori yang mengatakan bahwa seorang anak belajar dengan cara penguatan (reinforcement), artinya kalau seorang anak belajar ujaran-ujaran yang benar, ia mendapat penguatan dalam bentuk pujian, misalnya bagus, pandai, dsb. Akan tetapi, jika ujaran-ujarannya salah, ia mendapat “penguatan negatif”, misalnya lagi, salah, tidak baik. Pandangan ini berasumsi bahwa anak itu harus terus menerus diperbaiki bahasanya kalau salah dan dipuji jika ujarannya itu benar. Teori ini tampaknya belum dapat diterima seratus persen oleh para ahli psikologi dan ahli psikolinguistik. Yang benar ialah seorang anak membentuk aturan-aturan dan menyusun tata bahasa sendiri. Tidak semua anak menunjukkan kemajuan-kemajuan yang sama meskipun semuanya menunjukkan kemajuan-kemajuan yang reguler.

Teori-teori tentang Pemerolehan Bahasa Pertama

1.1 Teori Behaviorisme

Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (response). Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya. Sebagai contoh, seorang anak mengucapkan bilangkali untuk barangkali. Sudah pasti si anak akan dikritik oleh ibunya atau siapa saja yang mendengar kata tersebut. Apabila sutu ketika si anak mengucapkan barangkali dengan tepat, dia tidak mendapat kritikan karena pengucapannya sudah benar. Situasi seperti inilah yang dinamakan membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan dan merupakan hal yang pokok bagi pemerolehan bahasa pertama.
B.F. Skinner adalah tokoh aliran behaviorisme. Dia menulis buku Verbal Behavior (1957) yang digunakan sebagai rujukan bagi pengikut aliran ini. Menurut aliran ini, belajar merupakan hasil faktor eksternal yang dikenakan kepada suatu organisme. Menurut Skinner, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila suatu usaha menyenangkan, perilaku itu akan terus dikerjakan. Sebaliknya, apabila tidak menguntungkan, perilaku itu akan ditinggalkan. Singkatnya, apabila ada reinforcement yang cocok, perilaku akan berubah dan inilah yang disebut belajar. Namun demikian, banyak kritikan terhadap aliran ini. Chomsky mengatakan bahwa toeri yang berlandaskan conditioning dan reinforcement tidak bisa menjelaskan kalimat-kalimat baru yang diucapkan untuk pertama kali dan inilah yang kita kerjakan tiap hari. Bower dan Hilgard juga menentang aliran ini dengan mengatakan bahwa penelitian mutakhir tidak mendukung aliran ini. Aliran behaviorisme mengatakan bahwa semua ilmu dapat disederhanakan menjadi hubungan stimulus-response. Hal tersebut tidaklah benar karena tidak semua perilaku berasal dari stimulus-response.

1.2 Teori Nativisme

Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa. Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui “peniruan”. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD). Mengenai bahasa apa yang akan diperoleh anak bergantung pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan Amerika sudah pasti bahasa Inggris menjadi bahasa pertamanya.

Semua anak yang normal dapat belajar bahasa apa saja yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Apabila diasingkan sejak lahir, anak ini tidak memperoleh bahasa. Dengan kata lain, LAD tidak mendapat “makanan” sebagaimana biasanya sehingga alat ini tidak bisa mendapat bahasa pertama sebagaimana lazimnya seperti anak yang dipelihara oleh srigala .Tanpa LAD, tidak mungkin seorang anak dapat menguasai bahasa dalam waktu singkat dan bisa menguasai sistem bahasa yang rumit. LAD juga memungkinkan seorang anak dapat membedakan bunyi bahasa dan bukan bunyi bahasa.


1.3 Teori Kognitivisme

Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu juga dengan lingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah. Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan simbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.





1.4 Teori Interaksionisme

Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan “input” dan kemampuan internal yang dimiliki pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis. Sebenarnya, menurut hemat penulis, faktor intern dan ekstern dalam pemerolehan bahasa pertama oleh sang anak sangat mempengaruhi. Benar jika ada teori yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa si anak telah ada sejak lahir (telah ada LAD). Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penemuan seperti yang telah dilakukan oleh Howard Gardner. Dia mengatakan bahwa sejak lahir anak telah dibekali berbagai kecerdasan. Salah satu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan berbahasa. Akan tetapi, yang tidak dapat dilupakan adalah lingkungan juga faktor yang memperngaruhi kemampuan berbahasa si anak. Banyak penemuan yang telah membuktikan hal ini.

Proses Pemerolehan Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa. Orang dewasa mempunyai dua cara yang, berbeda berdikari, dan mandiri mengenai pengembangan kompetensi dalam bahasa kedua. Pertama, pemerolehan bahasa merupakan proses yang bersamaan dengan cara anak-anak. Mengembangkan kemampuan dalam bahasa pertama mereka. Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan bahwa mereka memakai bahasa untuk berkomunikasi. Kedua, untuk mengembangkan kompetensi dalam bahasa kedua dapat dilakukan dengan belajar bahasa. Anak-anak memperoleh bahasa, sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya. Akan tetapi ada hipotesis pemerolehan belajar yang menuntut bahwa orang-orang dewasa juga memperoleh bahasa, kemampuan memungut bahasa bahasa tidaklah hilang pada masa puber. Orang-orang dewasa juga dapat memanfaatkan sarana pemerolehan bahasa alamiah yang sama seperti yang dipakai anak-anak. Pemerolehan merupakan suatu proses yang amat kuat pada orang dewasa. Pemerolehan dan pembelajaran dapat dibedakan dalam lima hal, yaitu pemerolehan:
1. memiliki ciri-ciri yang sama dengan pemerolehan bahasa pertama, seorang anak penutur asli, sedangkan belajar bahasa adalah pengetahuan secara formal,
2. secara bawah sadar, sedangkan pembelajaran sadar dan disengaja.
3. bahasa kedua seperti memungut bahasa kedua, sedangkan pembelajaran mengetahui bahasa kedua,
4. mendapat pengetahuan secara implisit, sedangkan pembelajaran mendapat pengetahuan secara eksplisit,
5. pemerolehan tidak membantu kemampuan anak, sedangkan pembelajaran menolong sekali.
Pandangan pemerolehan bahasa secara alami yang merupakan pandangan kaum nativistis yang diwakili oleh Noam Chomsky, berpendapat bahwa bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia. Perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan. Hakikatnya, pola perkembangan bahasa pada berbagai macam bahasa dan budaya. Lingkungan hanya memiliki peran kecil dalam pemerolehan bahasa. Anak sudah dibekali apa yang disebut peranti penguasaan bahasa (LAD). Pandangan pemerolehan bahasa secara disuapi adalah pandangan kaum behavioristis yang diwakili oleh B.F. Skinner dan menganggap bahasa sebagai suatu yang kompleks di antara perilaku-perilaku lain. Kemampuan berbicara dan memahami bahasa diperoleh melalui rangsangan lingkungan. Anak hanya merupakan penerima pasif dari tekanan lingkungan. Anak tidak memiliki peran aktif dalam perilaku verbalnya. Perkembangan bahasa ditentukan oleh lamanya latihan yang disodorkan lingkungannya. Anak dapat menguasai bahasanya melalui peniruan. Belajar bahasa dialami anak melalui prinsip pertalian stimulus respon.
Perkembangan bahasa anak adalah suatu kemajuan yang sebarang hingga mencapai kesempurnaan. Pandangan kognitif diwakili oleh Jean Piaget dan berpendapat bahwa bahasa bukan ciri alamiah yang terpisah melainkan satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari pematangan kognitif. Lingkungan tidak besar pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual anak. Yang penting adalah interaksi anak dengan lingkungannya. Cara pemerolehan bahasa kedua dapat dibagi dua cara, yaitu pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin dan pemerolehan bahasa kedua secara alamiah. Pemerolehan bahasa kedua yang diajarkan kepada pelajar dengan menyajikan materi yang sudah dipahami. Materi bergantung pada kriteria yang ditentukan oleh guru. Strategi-strategi yang dipakai oleh seorang guru sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok bagi siswanya. Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah adalah pemerolehan bahasa kedua/asing yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan,guru. Tidak ada keseragaman cara. Setiap individu memperoleh bahasa kedua dengan caranya sendiri-sendiri. Interaksi menuntut komunikasi bahasa dan mendorong pemerolehan bahasa. Dua ciri penting dari pemerolehan bahasa kedua secara alamiah atau interaksi spontan ialah terjadi dalam komunikasi sehari-hari, dan bebas dari pimpinan sistematis yang sengaja. Di dalam kelas ada saja buah yang dapat dianggap sangat penting dan mendasar dalam proses belajar bahasa, yaitu (1) belajar bahasa adalah orang, (2) belajar bahasa adalah orang-orang dalam interaksi dinamis, dan (3) belajar bahasa adalah: orang-orang dalam responsi.
Pemerolehan bahasa bersamaan dengan proses yang digunakan oleh anak-anak dalam pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua. Pemerolehan bahasa menuntut interaksi yang berarti dalam bahasa sasaran yang merupakan wadah para pembicara memperhatikan bukan bentuk ucapan-ucapan mereka tetapi pesan-pesan yang mereka sampaikan dan mereka pahami. Perbaikan kesalahan dan pengajaran kaidah- kaidah eksplisit tidaklah relevan bagi pemerolehan bahasa, tetapi para guru dan para penutur asli dapat mengubah serta membatasi ucapan-ucapan mereka kepada pemeroleh agar menolong mereka memahaminya. Modifikasi-modifikasi ini merupakan pikiran untuk membantu proses pemerolehan tersebut.




(DESI_ZULINARTI)




Daftar Pustaka


Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik:Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
http://mahadewi.blogsome.com/2006/08/23/gangguang-perkembangan-berbahasa/\\
Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama.

Suriasumantri, J. 1998. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor.


Tarigan, Henry Guntur. 1984. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.

Yudibrata, Karna dkk. 1997. Psikolinguistik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
»»  READMORE...

ContOh Feature

Tanpa Warna Tidak Ada Kehidupan

Tidak ada satupun manusia yang bisa menyangkal keindahan dunia. Tidak percaya? Kalau begitu coba perhatikan lirik lagu Sherina ini dan bandingkan dengan sekitar Anda. “Langit biru, awan putih. Terbentang indah, lukisan yang kuasa”. Coba bandingkan lagi dengan lagu pelangi-pelangi. “Pelangi-pelangi alangkah indahmu. Merah, kuning, hijau di langit yang biru. Pelukismu agung siapa gerangan. Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan”. Benarkah dunia ini indah?. Dunia ini indah karena penuh dengan warna. Tapi, apakah anda pernah berpikir kenapa dunia penuh dengan warna? Apakah anda tahu definisi warna itu sendiri? Sudah pasti, tapi tentu saja dengan definisi yang berbeda-beda. Penulis yakin anda semua pasti memiliki warna favorit. Namun, pertanyaannya mengapa anda bisa suka sekali dengan warna tersebut. Lalu, apa peranan warna dalam kehidupan manusia? lalu bagaimana bila warna tidak ada. Dalam tulisan ini, penulis akan mengajak Anda berpikir sejenak mengenai warna.
Definisi warna itu bermacam-macam. Tergantung pada siapa anda bertanya. Kalau bertanya pada anak SD, rata-rata mereka pasti menjawab merah, kuning, hijau dan warna-warna lainnya. Kalau bertanya pada Fisikawan mereka pasti menjawab warna merupakan gelombang elektromagnetik yang menuju ke mata dan kemudian diterjemahkan oleh otak sebagai warna. Begitu beragamnya definisi warna. Ya apa mau dikata, soalnya tingkat kecerdasan orang itu berbeda-beda. Tapi tidak ada yang salah mengenai definisi warna, semuanya benar. Bagi penulis sendiri warna merupakan unsur kehidupan yang berkaitan erat dengan emosi manusia. Intinya tanpa warna tidak ada kehidupan.
Warna mengambil peranan yang begitu penting dalam kehidupan manusia. Bila dunia ini hanya serba hitam dan putih seperti televisi tempo dulu. “Alah mak jang, gersang bangetlah hidup awak nie”. Warna itu membuat hidup lebih bergairah. Buktinya, sebagai manusia yang hidup di dunia, kita menerima sinar utama dari matahari, yang memberikan kehangatan, pertumbuhan, energi dan manfaat lainnya. Sinar cahaya yang ada sudah biasa kita pelajari, dapat dipisahkan menjadi berbagai macam cahaya serta warna. Ternyata kita secara emosi akan menerima dan merespon pada cahaya yang ada. Dalam suatu penelitian, cahaya yang dibentuk mirip dengan sinar yang timbul akibat mendung di pagi hari atau cerahnya hari, ternyata mempengaruhi emosi kita. Kekurangan sinar cahaya matahari juga akan membuat mood kita menjadi hambar, depresi dan merasa tidak bersemangat.
Para ahli juga mengatakan tujuh warna pelangi membantu kita memperkuat kekuatan spiritual kita. Tidak hanya mereka bergetar di permukaan bumi pada saat menjalar, tapi ketujuh warna ini menggetarkan semua bahagian dari alam dengan energi yang tidak pernah berhenti. Mata manusia bisa melihat paling sedikit 7 juta warna. Dari sekian banyak warna ini, para ahli membaginya menjadi 2 bagian yaitu hangat dan dingin. Sedangkan warna hitam dan putih tidak dimasukkan dalam dua kategori ini. Karena bila dicampur ke warna lain akan menimbulkan gradiasi. Contoh yang termasuk dalam warna hangat adalah merah, orange, kuning dan coklat. Dalam teori warna, jenis ini dikatakan bisa mengesankan kecepatan berpikir dan kehangatan, sekaligus menarik perhatian. Kelompok warna ini juga diasosiasikan dengan kebahagiaan dan kenyamanan. Selain itu, warna ini punya ‘kekuatan’ membuat tulisan dan gambar jadi eyecatching. Tapi sayangnya, diantara kelebihan di atas, warna hangat juga punya kekurangan. Akan jadi membosankan bila tak dikombinasikan dengan warna lain. Biru, hijau dan ungu dimasukkan dalam warna dingin. Bila melihat warna dingin, persepsi pada waktu seakan diperlambat. Maksudnya, Anda dibawa ke suasana yang lebih tenang dan santai. Perasaan ini timbul karena warna dingin lebih selaras dengan alam di sekeliling kita. Tapi hati-hati, ketenangan tadi bisa membuat orang jadi tak bergairah. Inilah sebabnya warna dingin sering diidentikkan dengan kesenduan dan kesedihan. Jadi agar selalu bersemangat, warna dingin juga perlu dipadukan dengan warna hangat. Agar lebih ceria dan tak membosankan.
Dalam bisnis non-internet atau bisnis internet, pemilihan warna juga punya peran. Warna-warna memiliki peran dalam menciptakan image produk serta peningkatan citra bisnis anda. penulis pun yakin, setiap orang punya warna kesukaan masing-masing. Itu menunjukkan bahwa ada hubungan antara warna dengan manusia. Seperti halnya ketika kita memilih warna busana. Kekuatan warna bisa mempengaruhi sisi emosional kita. Berikut ini penulis terangkan warna-warna dalam bisnis. Merah: Bisa berarti berani dan semangat yang berkobar-kobar. Singkatnya secara umum berhubungan dengan perasaan yang meledak-ledak. Warna merah mudah menarik perhatian dan meningkatkan nafsu. Karena itu bisnis makanan banyak menggunakan warna dominan merah karena ini dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan pembeli. Kalau untuk teks, warna merah pasti akan lebih menarik perhatian dibanding warna lain. Namun jika untuk background dengan teks hitam, akan membuat mata cepat lelah. Putih: warna suci dan bersih. Warna yang sangat bisa dipadukan dengan warna apapun. Warna putih di situs web banyak dipakai sebagai warna background teks hitam. Sebab pengunjung akan lebih mudah untuk membacanya. Hitam: Menunjukkan hal yang tegas, elegan dan eksklusif. Juga bisa mengandung makna rahasia. Kalau untuk warna mobil, biasanya mobil berwarna hitam lebih mahal daripada mobil berwarna lain. Hijau: adalah warna alam. Banyak produk yang menekankan kealamian produk menggunakan warna ini sebagai pilihan. Untuk perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan eksplorasi alam, warna hijau banyak dipakai untuk menegaskan bahwa perusahannya berwawasan lingkungan. Warna ini termasuk yang sedang ngetren dan akan banyak dipakai khususnya dengan kampanye yang berhubungan dengan lingkungan. Kemasan deterjen juga tidak sedikit yang menggunakan warna hijau. Biru: adalah warna yang bermakna tenang dan terpercaya. Warna ini sangat baik untuk menumbuhkan loyalitas konsumen. Bank-bank banyak menggunakan warna biru sebagai warna dominannya. Kuning: adalah warna yang hangat. Cukup menarik perhatian dan sangat baik jika dijadikan background untuk teks hitam karena akan lebih mencolok terlihat.
Meski demikian, arti warna bisa bergantung juga dengan bidang tertentu, budaya, agama dan adat setempat. Warna kuning bisa berasosiasi dengan partai politik tertentu kalau dalam politik. Sementara kalau dalam kehidupan sehari-hari, bendera kuning yang dipasang di rumah seseorang, itu pertanda tengah terjadi peristiwa berkabung. Sementara bank syariah hampir pasti selalu dihiasi dengan warna hijau yang berasosiasi dengan agama tertentu.
Begitu penting peranan warna bagi kehidupan manusia. Lalu bagaimana kalau warna tidak ada. Jawabannya ada pada lirik lagu Ada Band yaitu hidupku hampa terasa. Yup.. betul sekali hidup akan benar-benar membosankan, kering dan mati rasa. Rasa mood kita menjadi hambar, depresi dan merasa tidak bersemangat atau tidak bergairah, laju perekonomian lambat dan dunia seakan tidak berputar karena yang terlintas dan yang terlihat hanya itu-itu saja. Ujung-ujungnya tidak ada warna tidak ada kehidupan. Betul tidak?
Dunia betul-betul indah, itulah yang saya rasakan. Kadang saya berpikir bagaimana orang buta melewati hidupnya dalam kegelapan. Bagaimana orang buta warna bisa merasakan gairah kehidupan. Hidup ini harus di syukuri, setidaknya itulah yang harus kita lakukan. Karena tanpa warna tidak ada kehidupan. Meskipun banyak orang buta dan orang buta warna masih dapat melanjutkan kehidupannya dan masih bersyukur akan kehidupannya. Tapi apakah kita mampu melanjutkan hidup bila kita dalam posisi mereka. Apakah Anda sanggup menghadapi hal tersebut? Apakah anda mampu survive? Apakah Anda termasuk golongan orang-orang yang bersyukur? Bagi penulis hidup ini indah penuh dengan warna dan patut di syukuri.
(Desi Zulinarti)
»»  READMORE...

ContOh Feature

Tanpa Warna Tidak Ada Kehidupan

Tidak ada satupun manusia yang bisa menyangkal keindahan dunia. Tidak percaya? Kalau begitu coba perhatikan lirik lagu Sherina ini dan bandingkan dengan sekitar Anda. “Langit biru, awan putih. Terbentang indah, lukisan yang kuasa”. Coba bandingkan lagi dengan lagu pelangi-pelangi. “Pelangi-pelangi alangkah indahmu. Merah, kuning, hijau di langit yang biru. Pelukismu agung siapa gerangan. Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan”. Benarkah dunia ini indah?. Dunia ini indah karena penuh dengan warna. Tapi, apakah anda pernah berpikir kenapa dunia penuh dengan warna? Apakah anda tahu definisi warna itu sendiri? Sudah pasti, tapi tentu saja dengan definisi yang berbeda-beda. Penulis yakin anda semua pasti memiliki warna favorit. Namun, pertanyaannya mengapa anda bisa suka sekali dengan warna tersebut. Lalu, apa peranan warna dalam kehidupan manusia? lalu bagaimana bila warna tidak ada. Dalam tulisan ini, penulis akan mengajak Anda berpikir sejenak mengenai warna.
Definisi warna itu bermacam-macam. Tergantung pada siapa anda bertanya. Kalau bertanya pada anak SD, rata-rata mereka pasti menjawab merah, kuning, hijau dan warna-warna lainnya. Kalau bertanya pada Fisikawan mereka pasti menjawab warna merupakan gelombang elektromagnetik yang menuju ke mata dan kemudian diterjemahkan oleh otak sebagai warna. Begitu beragamnya definisi warna. Ya apa mau dikata, soalnya tingkat kecerdasan orang itu berbeda-beda. Tapi tidak ada yang salah mengenai definisi warna, semuanya benar. Bagi penulis sendiri warna merupakan unsur kehidupan yang berkaitan erat dengan emosi manusia. Intinya tanpa warna tidak ada kehidupan.
Warna mengambil peranan yang begitu penting dalam kehidupan manusia. Bila dunia ini hanya serba hitam dan putih seperti televisi tempo dulu. “Alah mak jang, gersang bangetlah hidup awak nie”. Warna itu membuat hidup lebih bergairah. Buktinya, sebagai manusia yang hidup di dunia, kita menerima sinar utama dari matahari, yang memberikan kehangatan, pertumbuhan, energi dan manfaat lainnya. Sinar cahaya yang ada sudah biasa kita pelajari, dapat dipisahkan menjadi berbagai macam cahaya serta warna. Ternyata kita secara emosi akan menerima dan merespon pada cahaya yang ada. Dalam suatu penelitian, cahaya yang dibentuk mirip dengan sinar yang timbul akibat mendung di pagi hari atau cerahnya hari, ternyata mempengaruhi emosi kita. Kekurangan sinar cahaya matahari juga akan membuat mood kita menjadi hambar, depresi dan merasa tidak bersemangat.
Para ahli juga mengatakan tujuh warna pelangi membantu kita memperkuat kekuatan spiritual kita. Tidak hanya mereka bergetar di permukaan bumi pada saat menjalar, tapi ketujuh warna ini menggetarkan semua bahagian dari alam dengan energi yang tidak pernah berhenti. Mata manusia bisa melihat paling sedikit 7 juta warna. Dari sekian banyak warna ini, para ahli membaginya menjadi 2 bagian yaitu hangat dan dingin. Sedangkan warna hitam dan putih tidak dimasukkan dalam dua kategori ini. Karena bila dicampur ke warna lain akan menimbulkan gradiasi. Contoh yang termasuk dalam warna hangat adalah merah, orange, kuning dan coklat. Dalam teori warna, jenis ini dikatakan bisa mengesankan kecepatan berpikir dan kehangatan, sekaligus menarik perhatian. Kelompok warna ini juga diasosiasikan dengan kebahagiaan dan kenyamanan. Selain itu, warna ini punya ‘kekuatan’ membuat tulisan dan gambar jadi eyecatching. Tapi sayangnya, diantara kelebihan di atas, warna hangat juga punya kekurangan. Akan jadi membosankan bila tak dikombinasikan dengan warna lain. Biru, hijau dan ungu dimasukkan dalam warna dingin. Bila melihat warna dingin, persepsi pada waktu seakan diperlambat. Maksudnya, Anda dibawa ke suasana yang lebih tenang dan santai. Perasaan ini timbul karena warna dingin lebih selaras dengan alam di sekeliling kita. Tapi hati-hati, ketenangan tadi bisa membuat orang jadi tak bergairah. Inilah sebabnya warna dingin sering diidentikkan dengan kesenduan dan kesedihan. Jadi agar selalu bersemangat, warna dingin juga perlu dipadukan dengan warna hangat. Agar lebih ceria dan tak membosankan.
Dalam bisnis non-internet atau bisnis internet, pemilihan warna juga punya peran. Warna-warna memiliki peran dalam menciptakan image produk serta peningkatan citra bisnis anda. penulis pun yakin, setiap orang punya warna kesukaan masing-masing. Itu menunjukkan bahwa ada hubungan antara warna dengan manusia. Seperti halnya ketika kita memilih warna busana. Kekuatan warna bisa mempengaruhi sisi emosional kita. Berikut ini penulis terangkan warna-warna dalam bisnis. Merah: Bisa berarti berani dan semangat yang berkobar-kobar. Singkatnya secara umum berhubungan dengan perasaan yang meledak-ledak. Warna merah mudah menarik perhatian dan meningkatkan nafsu. Karena itu bisnis makanan banyak menggunakan warna dominan merah karena ini dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan pembeli. Kalau untuk teks, warna merah pasti akan lebih menarik perhatian dibanding warna lain. Namun jika untuk background dengan teks hitam, akan membuat mata cepat lelah. Putih: warna suci dan bersih. Warna yang sangat bisa dipadukan dengan warna apapun. Warna putih di situs web banyak dipakai sebagai warna background teks hitam. Sebab pengunjung akan lebih mudah untuk membacanya. Hitam: Menunjukkan hal yang tegas, elegan dan eksklusif. Juga bisa mengandung makna rahasia. Kalau untuk warna mobil, biasanya mobil berwarna hitam lebih mahal daripada mobil berwarna lain. Hijau: adalah warna alam. Banyak produk yang menekankan kealamian produk menggunakan warna ini sebagai pilihan. Untuk perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan eksplorasi alam, warna hijau banyak dipakai untuk menegaskan bahwa perusahannya berwawasan lingkungan. Warna ini termasuk yang sedang ngetren dan akan banyak dipakai khususnya dengan kampanye yang berhubungan dengan lingkungan. Kemasan deterjen juga tidak sedikit yang menggunakan warna hijau. Biru: adalah warna yang bermakna tenang dan terpercaya. Warna ini sangat baik untuk menumbuhkan loyalitas konsumen. Bank-bank banyak menggunakan warna biru sebagai warna dominannya. Kuning: adalah warna yang hangat. Cukup menarik perhatian dan sangat baik jika dijadikan background untuk teks hitam karena akan lebih mencolok terlihat.
Meski demikian, arti warna bisa bergantung juga dengan bidang tertentu, budaya, agama dan adat setempat. Warna kuning bisa berasosiasi dengan partai politik tertentu kalau dalam politik. Sementara kalau dalam kehidupan sehari-hari, bendera kuning yang dipasang di rumah seseorang, itu pertanda tengah terjadi peristiwa berkabung. Sementara bank syariah hampir pasti selalu dihiasi dengan warna hijau yang berasosiasi dengan agama tertentu.
Begitu penting peranan warna bagi kehidupan manusia. Lalu bagaimana kalau warna tidak ada. Jawabannya ada pada lirik lagu Ada Band yaitu hidupku hampa terasa. Yup.. betul sekali hidup akan benar-benar membosankan, kering dan mati rasa. Rasa mood kita menjadi hambar, depresi dan merasa tidak bersemangat atau tidak bergairah, laju perekonomian lambat dan dunia seakan tidak berputar karena yang terlintas dan yang terlihat hanya itu-itu saja. Ujung-ujungnya tidak ada warna tidak ada kehidupan. Betul tidak?
Dunia betul-betul indah, itulah yang saya rasakan. Kadang saya berpikir bagaimana orang buta melewati hidupnya dalam kegelapan. Bagaimana orang buta warna bisa merasakan gairah kehidupan. Hidup ini harus di syukuri, setidaknya itulah yang harus kita lakukan. Karena tanpa warna tidak ada kehidupan. Meskipun banyak orang buta dan orang buta warna masih dapat melanjutkan kehidupannya dan masih bersyukur akan kehidupannya. Tapi apakah kita mampu melanjutkan hidup bila kita dalam posisi mereka. Apakah Anda sanggup menghadapi hal tersebut? Apakah anda mampu survive? Apakah Anda termasuk golongan orang-orang yang bersyukur? Bagi penulis hidup ini indah penuh dengan warna dan patut di syukuri.
(Desi Zulinarti)
»»  READMORE...

PengertIan Sintaksis

SINTAKSIS


A. Pengertian Sintaksis
Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. (Ramlan,1976) mengatakan bahwa ”Sintaksis adalah bahagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat”. Ada pula yang mengatakan bahwa “Sintaksis adalah salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase” (Tarigan, 1985). Dari pendapat pakar tersebut, sintaksis merupakan cabang dari tata bahasa yang berhubungan dengan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase. Menurut Ramlan “sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase”. Satuan wacana terdiri dari unsur-unsur yang berupa kalimat, satuan kalimat terdiri dari unsur atau unsur-unsur yang berupa klausa, satuan klausa terdiri dari unsur-unsur yang berupa frase dan frase terdiri dari unsur-unsur yang berupa kata. Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa berusaha menjelaskan unsur-unsur suatu satuan serta hubungan fungsional maupun hubungan maknawi. dari pengertian diatas menurut Kridalaksana(1982) “sintaksis adalah Pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan- satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata”. Pengertian tersebut hampir sama dengan pengertian dari KBBI (2001:1072) yaitu sintaksis adalah (1) pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar (2) cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat. Jadi pengertian dari beberapa pakar tersebut dapat disimpulkan Sintaksis adalah Salah satu cabang dari tata bahasa yang mempelajari struktur bahasa serta hubungan dan bagian-bagiannya, yaitu hubungan antara kata dengan kata, kata dengan frase, frase dengan frase, frase dengan kata, frase dengan kalimat, kalimat dengan kata, kalimat dengan frase, kalimat dengan kalimat.
»»  READMORE...