Kalimat


SINTAKSIS


A. Pengertian Sintaksis
Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. (Ramlan,2001) mengatakan bahwa ”Sintaksis adalah bahagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat”. Ada pula yang mengatakan bahwa “Sintaksis adalah salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase” (Tarigan, 1985). Dari pendapat pakar tersebut, sintaksis merupakan cabang dari tata bahasa yang berhubungan dengan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase. Menurut Ramlan “sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase”. Satuan wacana terdiri dari unsur-unsur yang berupa kalimat, satuan kalimat terdiri dari unsur atau unsur-unsur yang berupa klausa, satuan klausa terdiri dari unsur-unsur yang berupa frase dan frase terdiri dari unsur-unsur yang berupa kata. Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa berusaha menjelaskan unsur-unsur suatu satuan serta hubungan fungsional maupun hubungan maknawi. dari pengertian diatas menurut Kridalaksana(1982) “sintaksis adalah Pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan- satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata”. Pengertian tersebut hampir sama dengan pengertian dari KBBI (2001:1072) yaitu sintaksis adalah (1) pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar (2) cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat. Jadi pengertian dari beberapa pakar tersebut dapat disimpulkan Sintaksis adalah Salah satu cabang dari tata bahasa yang mempelajari struktur bahasa serta hubungan dan bagian-bagiannya, yaitu hubungan antara kata dengan kata, kata dengan frase, frase dengan frase, frase dengan kata, frase dengan kalimat, kalimat dengan kata, kalimat dengan frase, kalimat dengan kalimat.









KALIMAT


A. Pengertian Kalimat
Telah diketahui bahwa sintaksis merupakan ilmu yang mempelajari tata kalimat. Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan kalimat. Ramlan (1987:6) mengatakan: “kalimat ialah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun dan naik”. Dalam definisi Ramlan menyatakan jeda atau intonasi yang merupakan salah satu alat sintaksis yang sangat penting. Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa, seperti yang telah dikemukakan oleh Keraf (1978:156) bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran, yang didahului oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa ujaran itu sudah lengkap.
Alisjahbana (1978:58) mengatakan: “kalimat ialah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran lengkap”. Melihat definisinya, dapat dilihat persamaan dari Alwi dkk (1998:311) yaitu merumuskan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan dan tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, tanda seru. Sementara itu, di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma, titik dua, tanda pisah, dan spasi.
Menurut Chaer (2000:27) mendefinisikan kalimat adalah satuan bahasa yang berisi suatu pikiran atau amanat yang lengkap. Melihat batasan-batasan kalimat menurut tiga pakar linguis yaitu Alisjahbana, Alwi, dan Chaer dapat dilihat persamaannya pada kelompok kata: “yang mengandung pikiran yang lengkap”.
Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Cook,1971:39-40; Elson and Picket, 1969:82 menyatakan kalimat ialah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa. hal yang sama pada Kridalaksana (2001:494) merumuskan kalimat sebagai satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri darai klausa, klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan. satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan yang bebas, jawaban minimal, satuan, salam dan sebagainya; konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan.
Dalam ruang lingkup linguistik mendefinisikan kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. didalam KBBI (2001:494) kalimat didefinisikan sebagai (1) kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan (2) perkataan.
Definisi kalimat dikemukakan oleh Parera (1978:10) bahwa kalimat adalah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas. Fokker (1960:9) mengatakan: “ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan turunannya suara menjadi cirinya sebagai batas keseluruhannya”.
Dapat diketahui lagi definisi lain yaitu Wojowasito (1976:134) bahwa kalimat adalah rentetan/rangkaian kata atau kelompok kata yang tidak mempunyai hubungan dengan lain-lain kata atau kelompok kata yang berada yang berada di luarnya dan memiliki kesatuan bunyi yang berdaulat. Menurut Malik dkk merumuskan pengertian kalimat dengan sederhana yaitu salah satu satuan dasar bahasa. Berbeda dengan pendapat Kusno (1990:100) bahwa kalimat adalah rangkaian kata yang berstruktur, dengan menggunakan acuan yang berupa teori ilmu bahasa.
Berdasarkan batasan-batasan dari para ahli linguis sebelumnya dapat dihasilkan bahwa kalimat adalah satuan bahasa dan dapat berdiri sendiri, dalam wujud lisan dan tulisan yang dapat menuangkan dan mengungkapkan gagasan-gagasan pikiran yang utuh.





B. Jenis-Jenis Kalimat
1. Kalimat Menurut Bentuk
Menurut bentuk, kalimat terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat. dari definisi tersebut Arifin, 2004:64 juga merumuskan bahwa kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Jika menurut (Cook, 1971:38;Elson and Picket :23) mendefinisikan kalimat tunggal yaitu kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas dan satu klausa terikat.
Contoh:
- Dosen itu ramah.
- Mahasiswa berdiskusi.
Berdasarkan bentuk predikatnya, kalimat tunggal terbagi ke dalam tiga jenis:
1) Kalimat Nominal adalah kalimat yang predikatnya kata benda.
Contoh:
- Mereka guru-guru yang rajin
2) Kalimat Verbal adalah kalimat yang predikatnya kata kerja.
Contoh:
- Adik makan pisang goreng.
3) Kalimat Ajektival adalah kalimat yang predikatnya kata sifat.
Contoh:
- Pernyataan orang itu benar.
2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua pola kalimat yaitu berupa subjek, predikat mupun keterangan. Kalimat majenuk dapat dibentuk dari panduan beberapa buah kalimat tunggal. Kalimat majemuk dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yakni kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat dan kalimat majemuk campuran.
a. Kalimat majemuk setara.
Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat setara. Berdasarkan kata penghubung yang digunakannya, kalimat majemuk setara terbagi menjadi empat macam.
1) Kalimat majemuk setara penjumlahan, ditandai oleh kata penghubung dan atau serta.
Contoh:
- Kami membaca dan mereka menulis.
- Ibu mengambil handuk yang bersih dan mengompres Via.
2) Kalimat majemuk setara pemilihan, ditandai oleh kata penghubung atau.
Contoh:
- Saya tidak tahu apakah dia akan ikut atau tidak.
3) kalimat majemuk setara pertentangan, ditandai oleh kata penghubung tetapi, melainkan.
Contoh:
- Saya tidak membaca buku itu , melainkan hanya melihat sampulnya.
- Adikku belum bersekolah, tetapi dia sudah bisa membaca surat kabar.
4) Kalimat majemuk setara perurutan, ditandai oleh kata penghubung lalu dan kemudian.
Contoh:
- Acara serah terima pengurus koerasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa selamat.

b. Kalimat majemuk bertingkat.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya tidak sederajat. Salah satu unsurnya ada yang menduduki induk kalimat, sedangkan unsur yang lain sebagai anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat antara lain meliputi jenis-jenis berikut:
1) Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai oleh konjungsi sejak, sewaktu, ketika, setelah, sampai, manakala dan sebagainya.
Contoh:
- Sejak kakak berangkat, dia belum datang lagi ke sini.
- Ia baru kembali ke desa setelah biaya untuk melanjutkan kuliahnya tidak ada.
2) Kalimat majemuk hubungan syarat, ditandai oleh konjungsi jika, seandainya, andaikan, asalkan, apabila.
Contoh:
- Jika anda mau menerimanya, saya tentu senang sekali.
- Hatiku bertambah sedih apabila aku teringat teman kecilku dulu.
3) Kalimat majemuk hubungan tujuan, ditandai oleh konjungsi agar, supaya, biar.
Contoh:
- Ayah bekerja sampai malam biar anaknya dapat melanjutkan sekolahnya.
- Saya sengaja meninggalkan rumah agar adik-adik bisa mandiri.
4) Kalimat majemuk hubungan konsesip, ditandai oleh konjungsi walaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, kendatipun, sungguhpun, betapa pun.
Contoh:
- Walaupun hatinya sangat sedih, dia tidak pernah menangis.
- Ibu melepaskan Andi pergi betapa pun besar cintanya.
5) Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai oleh kata penghubung daripada, seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana.
Contoh:
- Daripada menganggur, lebih baik kamu mengolah kebun itu.
- Saya akan menolongmu sebagaimana ayahmu juga menolong keluargaku.
6) Kalimat majemuk hubungan penyebaban, ditandai oleh kata penghubung sebab, karena, oleh karena.
Contoh:
- Pekerjaan di perusahaan itu saya lepaskan sebab saya sudah memutuskan untuk kuliah kembali.
- Karena tiga hari tidak masuk sekolah, Susi mendapat peringatan keras dari kepala sekolahnya
7) Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai oleh kata penghubung sehingga, maka.
Contoh:
- Ia terlalu bekerja keras sehingga jatuh sakit.
- Kami tidak setuju, maka kami preotes.
8) Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai oleh kata penghubung dengan.
Contoh:
- Dengan cara menggendongnya, anak itu ia bawa ke rumah orang tuanya.
9) Kalimat majemuk hubungan sangkalan, ditandai oleh konjungsi seolah-olah, seakan-akan.
Contoh:
- Dia diam saja seakan-akan dia tidak mengetahui persoalan yang terjadi.
- Keadaan di dalam kota kelihatan tenang, seolah-olah tidak ada suatu apapun yang terjadi.
10) Kalimat majemuk hubungan kenyataan, ditandai oleh konjungsi padahal, sedangkan.
Contoh:
- Pura-pura tidak tahu padahal dia tahu banyak.
- Para tamu sudah siap, sedangkan kita belum siap.
11) Kalimat majemuk hasil, ditandai oleh konjungsi makanya.
Contoh:
- Lantai ini licin, makanya kamu jatuh.
12) Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai oleh kata penghubung bahwa, yaitu,
Contoh:
- Berkas riwayat hidupnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pelajar teladan.
13) Kalimat majemuk hubungan atributif, ditandai oleh konjungsi yang.
Contoh:
- Pamannya yang tinggal di Jakarta itu, sedang di rawat di rumah sakit.
- Laki-laki yang berbaju putih itu adalah teman baikku.

c. Kalimat majemuk campuran.
Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat.
Contoh:
- Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak dating dan ibu selesai memasak.
- Orang tua yang sedang duduk-duduk di pinggir kolam dan membuka-buka koran itu adalah tetangga kami.

2. Kalimat Menurut Segi Maknanya
Menurut segi maknanya, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat pernyataan (berita), kalimat pertanyaan, kalimat perintah, kalimat penegas, dan kalimat seruan. Semua kalimat itu dapat disajikan dalam bentuk positif atau dapat pula disajikan dalam bentuk negatif. Dalam ragam lisan, intonasi merupakan salah satu yang menjelaskan dari apa yang diucapkan. Dalam ragam tulisan, tanda baca yang merupakan penjelasannya.
Menurut Cook, 1971:38 menyatakan bahwa kalimat pernyataan(berita), kalimat pertanyaaan, kalimat perintah diklasifikasikannya kalimat dipandang dari segi jenis responsi yang diharapkan. sedangkan menurut Ramlan, 1987:26 mengklasifikasikan berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh.
1. Kalimat Pernyataan/Berita (Deklaratif)
Kalimat berita menyampaikan berita pernyataan. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan responsi tertentu. (Cook, 1971:38). Menurut Ramlan (1987:27) menyatakan kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian.
Contoh:
- Indonesia menggunakan sistem anggaran berimbang.
- Jalan itu sangat licin.
2. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)
Kalimat tanya mengajukan pertanyaan. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing reponsi yang berupa jawaban. (Cook, 1971:38). Menurut Ramlan (1987:28) menyatakan bahwa kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesuatu.
Contoh:
- Mengapa dia gagal dalam ujian?
- Kapan saudara berangkat ke Singapura?
3. Kalimat Perintah (Imperatif)
Kalimat perintah memberikan perintah kepada yang bersangkutan. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan. (Cook, 1971:38). Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan sesuatu.
Contoh:
- Dilarang merokok di ruangan ini!
- Masuk, Ani!
4. Kalimat Penegas (Emfatik)
Kalimat penegas memberikan penegasan khusus kepada pokok pembicaraan.
Contoh:
- Dia membocorkan rahasia itu.
- Dialah yang membocorkan rahasia itu.
5. Kalimat Seruan (Eksklamatif)
Kalimat seruan mengungkapkan perasaan keheranan atau kekaguman atas sesuatu yang disertai kata seperti alangkah atau bukan main. Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat” atau yang mendadak.
Contoh:
- Bukan main sulitnya soal itu
- Alangkah indahnya pemandangan di danau ini.

3. Kalimat Menurut Segi Peranan Fungsinya
Menurut segi peranan fungsinya kalimat dapat di kelompokkan empat bagian, yaitu kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial, kalimat resiprokal. sedangkan menurut (Cook,
Elson and Picket, francis, dan Stryker dalam Dr. Henry Guntur Tarigan “Prinsip-prinsip dasar sintaksis”. mengklasifikasikan kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial, kalimat resiprokal dapat dipandang dari sifat hubungan aktor aksi.
1. Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya melakukan suatu pekerjaan. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperanan sebagai pelaku atau aktor.(Cook,1971:49). Ciri penting yang menandai kalimat aktif, predikat kalimat itu berupa kata kerja yang berawalan me(N)- dan ber-. Namun demikian, tidak sedikit kalimat aktif yang predikatnya tidak disertai kedua imbuhan tersebut, misalnya yang terjadi pada kata makan dan minum.
Berdasarkan hubungan antara predikat dengan objeknya, kalimat aktif dapat dibagi kedalam empat kelompok:
a. Kalimat aktif transitif, yakni kalimat aktif yang predikatnya memerlukan objek.
Contoh: - Kami tidak mengetahui masalah itu.
- Pemerintah tengah mengembangkan anggaran dasar.
b. Kalimat aktif semitransitif, yakni kalimat yang predikatnya memerlukan pelengkap.
Contoh: - Usahanya hanya bermodalkan kejujuran.
- Anak itu kedapatan mencuri.
c. Kalimat aktif dwitransitif, yakni kalimat yang memerlukan objek dan pelengkap secara sekaligus.
Contoh: - Adik meminjami temannya sebuah buku.
- Kakak membelanjai ibu pakaian.
d. Kalimat aktif intransitif, yakni yang predikatnya tidak memerlukan objek ataupun pelengkap.
Contoh: - Putra akan pergi besok pagi.
- Pekerjaannya menulis.
2. Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. kalimatpasif ditandai oleh predikatnya yang berawalan di- atau ter-.
Contoh:
- Via terkejut mendengar kematian sahabatnya.
- Tugas ini harus kami ketik kembali.
3. Kalimat Medial
Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperanan baik sebagai pelaku maupun penderita.(Cook.1971:49)
Contoh:
- Aku menjatuhkan diriku.
- Dia memukuli pahanya.
4. Kalimat Resiprokal
Kalimat resiprokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan suatu perbuatan yang berbalas-balasan.
Contoh:
- Kita harus bahu-membahu menolong orang yang sedang kesusahan.
- Rina sering cibir-mencibir dengan Ela padahal mereka berteman.

4. Kalimat Menurut Segi Lengkap atau Tidak
1. Kalimat Formata
Kalimat formata adalah kalimat tunggal dan sempurna.
2. Kalimat Transformata
Kalimat transformata adalah kalimat lengkap tetapi bukan kalimat tunggal. kalimat transformata ini mencakup kalimat bersusun dan kalimat majemuk.


3. Kalimat Deformata
Kalimat deformata adalah kalimat tunggal yang tak sempurna, tidak lengkap.Yang termasuk ke dalam golongan kalimat deformata ini adalah:
a. Kalimat urutan adalah kalimat sempurna yang mengandung konjungsi seperti maka, jadi, tetapi, sedangkan, dan sebagainya.
b. Kalimat sampingan adalah kalimat tak sempurna yang terdiri dari klausa terikat, dan diturunkan dari kalimat bersusun.
c. Kalimat ellips adalah kalimat tak sempurna yang terjadi karena pelenyapan beberapa bagian dari klausa, dan diturunkan dari kalimat tunggal.
d. Kalimat tambahan adalah kalimat tak sempurna yang terdapat dalam wacana sebagai tambahan pada pernyataan-pernyataan yang telah dikemukakan.
e. Kalimat jawaban adalah kalimat tak sempurna yang bertindak sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan.
f. Kalimat seruan adalah kalimat pendek yang biasanya berpola tetap dengan intonasi tertentu. Menurut Charlina dkk menyatakan kalimat seruan adalah kalimat yang dapat terikat atau tidak, yang dalam bahasa indonesia terjdi dari klausa bebas ditambah dengan partikel seru seperti alangkah, bukankah. atau terjadi dari struktur bukan klausa berupa kata seperti aduh, wah, amboi.

5. Kalimat Menurut Segi Ada atau Tidaknya Unsur Negatif
1. Kalimat Afirmatif
Kalimat Afirmatif adalah kalimat yang tidak terdapat unsur negatif atau unsur penindakan, ataupun unsur penyangkalan.
Contoh:
- Mereka membaca buku.
- Ibu memasak sayur.
2. Kalimat Negatif
Kalimat negatif atau kalimat penyangkalan adalah kalimat yang terdapat unsur negatif atau unsur penyangkalan.
Contoh:
- Saya tidak membaca novel.
- Rani tidak membawa surat.








































0 komentar:

Posting Komentar